SuaraDuniaNusantara.net—Program BINLAT Karakter Jati Diri Bangsa di Kediri menguji pendekatan pendidikan karakter berbasis metode rasa yang dipadukan dengan neuro-pedagogi dan pembelajaran berbasis pengalaman, dengan memanfaatkan situs sejarah sebagai ruang belajar kontekstual.
Pelatihan ini dilaksanakan di Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok Kediri oleh Yayasan Persada Soekarno. Ketua Harian yayasan tersebut, Kushartono, menyebut BINLAT dirancang untuk memperkuat pendidikan karakter melalui pendekatan yang menyentuh kesadaran batin peserta.
“Nilai kebangsaan perlu dirasakan, bukan sekadar dipahami. Dari rasa itulah lahir kesadaran dan komitmen,” ujar Kushartono di Kediri, Sabtu (11/1/2026).
Rasa dan Kesadaran Kebangsaan
Metode rasa dalam BINLAT berpijak pada kerangka Rasa, Cipta, dan Karsa yang berkembang dalam tradisi Nusantara. Pendekatan ini digunakan agar peserta memahami nasionalisme sebagai pengalaman personal.
Pendekatan neuro-pedagogi diterapkan dengan menciptakan suasana belajar yang aman secara psikologis. Tekanan emosional dihindari agar proses internalisasi nilai berlangsung efektif.
Sejarah sebagai Media Diplomasi Nilai
Situs Persada Soekarno dimanfaatkan sebagai medium pembelajaran melalui pendekatan genius loci. Peserta diajak menyelami nilai perjuangan pendiri bangsa melalui interaksi langsung dengan ruang sejarah.
Aktivitas pembelajaran meliputi diskusi kelompok, simulasi peran, observasi, dan refleksi. Teknik NLP digunakan untuk membangun kepercayaan diri dan empati.
Mengikat Nilai Menjadi Karakter
Tahap akhir BINLAT difokuskan pada refleksi untuk memastikan nilai spiritual, intelektual, kultural, dan etika terinternalisasi sebagai karakter. Program ini didampingi instruktur bersertifikasi BNSP dan masih berada dalam tahap uji coba model pendidikan karakter terpadu.***
