Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Selatan dan mengganggu aktivitas masyarakat. Di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, sedikitnya empat penerbangan mengalami penundaan akibat jarak pandang yang berada di bawah standar minimum penerbangan.
Kabut asap tebal masih terlihat menyelimuti sejumlah kawasan di Sumatera Selatan. Di Palembang, kondisi udara memburuk dan jarak pandang menurun. Dampaknya tidak hanya dirasakan pengguna jalan, tetapi juga penumpang pesawat yang harus menghadapi penundaan perjalanan.
Pada Jumat (9/10), jarak pandang di sekitar bandara berada di bawah batas minimum 400 meter. Kondisi tersebut menyebabkan empat penerbangan mengalami penundaan. Kabut asap juga mengganggu kenyamanan warga karena menimbulkan bau menyengat dan keluhan kesehatan.
Empat Penerbangan Tertunda Akibat Kabut Asap Sumsel
Gangguan operasional terjadi di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Sedikitnya empat penerbangan mengalami penundaan ketika jarak pandang tidak memenuhi standar minimum penerbangan.
Empat penerbangan yang terdampak terdiri atas JT246 dengan rute Palembang–Batam, IU921 dengan rute Palembang–Jakarta, dan IU302 dengan rute Palembang–Pangkalpinang.
Penerbangan lainnya adalah IU933 dari Yogyakarta menuju Palembang. Penundaan ini menunjukkan bahwa kabut asap berpengaruh terhadap perjalanan udara, baik bagi penumpang yang berangkat dari Palembang maupun yang menuju kota tersebut.
Jarak pandang menjadi faktor penting dalam operasional penerbangan. Dalam kejadian ini, jarak pandang yang berada di bawah standar minimum 400 meter menjadi kendala bagi penerbangan yang terdampak.
Jarak Pandang Palembang Dilaporkan Hanya 20 Meter
Sehari setelah gangguan penerbangan tersebut, kabut asap di Palembang dilaporkan semakin parah pada Sabtu sore (10/10). Jarak pandang saat itu hanya sekitar 20 meter, menurut data kejadian yang tersedia.
Bau asap menyengat terasa di udara. Warga juga mengeluhkan mata perih, tenggorokan kering, dan gangguan pernapasan. Pengguna jalan harus lebih berhati-hati serta menyalakan lampu kendaraan ketika melintas di tengah kabut.
Nora, salah seorang warga Palembang, mengatakan kabut asap telah berlangsung lebih dari dua bulan. Ia menilai kondisi pada hari tersebut semakin mengganggu aktivitas masyarakat.
"Terganggu, tapi bagaimana kita kan ingin sehat, terasa di hidung, mata pedih, lebih parah hari ini," kata Nora.
Ia berharap pemerintah segera mempercepat penanganan karhutla. Nora juga menyampaikan kekhawatiran mengenai gangguan kesehatan yang dialami masyarakat akibat kondisi udara tersebut.
Kasus ISPA Menjadi Perhatian Masyarakat
Dinas Kesehatan Kota Palembang mencatat 17.434 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama September. Angka tersebut menjadi perhatian di tengah kabut asap yang terus menyelimuti kota.
Namun, data yang tersedia tidak merinci jumlah kasus ISPA yang secara khusus disebabkan oleh paparan asap karhutla. Karena itu, angka tersebut perlu dipahami sebagai total kasus yang tercatat selama periode September.
Keluhan warga tetap memperlihatkan adanya gangguan kenyamanan selama kabut asap berlangsung. Mata perih, hidung tersumbat, dan tenggorokan kering menjadi beberapa keluhan yang disampaikan masyarakat.
Petani Musi Rawas Juga Menghadapi Dampak Kabut Asap
Selain Palembang, kabut asap turut mengganggu aktivitas warga Kabupaten Musi Rawas. Di Kecamatan Tugu Mulyo, sejumlah petani menghadapi asap tebal yang menyelimuti kawasan pertanian.
Sutri, seorang petani, menyebut kabut asap telah berlangsung sekitar dua minggu. Ketebalannya meningkat dalam lima hari terakhir sehingga aktivitas pada pagi dan sore hari semakin terganggu.
"Mata menjadi perih kalau siang, pagi sama sore gelap," kata Sutri.
Purdianto, petani lainnya, mengeluhkan mata pedih, hidung tersumbat, dan tubuh yang terasa tidak nyaman. Kondisi tersebut membuatnya ragu untuk berangkat ke sawah.
Penanganan Karhutla Dinantikan Warga
Masyarakat berharap penanganan kebakaran hutan dan lahan segera dilakukan agar kabut asap tidak terus mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Warga Musi Rawas juga berharap hujan dapat membantu mengurangi asap.
Hingga Senin (12/10), kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Dampaknya mencakup kegiatan pertanian, perjalanan darat, kesehatan masyarakat, hingga operasional penerbangan.
Penanganan sumber kebakaran dan pemantauan kualitas udara menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak tersebut. Masyarakat masih menantikan kondisi udara yang lebih baik agar kegiatan sehari-hari dapat berlangsung dengan aman.