Pembangunan data center AI di Indonesia mempercepat dalam rentang 24-28 Oktober 2026. Investasi infrastruktur server lokal berskala besar terus mengalir dari pemain global dan nasional untuk mendukung layanan cloud.
Fenomena perkembangan layanan cloud dan data center di Indonesia semakin nyata pada minggu terakhir Oktober 2026. Badan Pengelola Investasi Danantara memimpin dorongan investasi infrastruktur server lokal berkapasitas besar. Langkah ini bertujuan menguasai rantai nilai teknologi, bukan sekadar menyewakan lahan.
Chief Technology Officer Danantara Sigit Puji Santosa menegaskan strategi baru tersebut dalam konferensi pers di Jakarta. Kalau kita hanya menyewakan lahan, dampak ekonominya tidak besar. Investor asing bisa menanam modal USD 3 sampai 4 miliar, tapi pendapatan yang kita terima dari sewa lahan paling cuma sekitar USD 100 sampai 150 juta. Ia menambahkan potensi penerimaan bisa melonjak hingga USD 1,5-1,7 miliar atau setara Rp23-26 triliun jika Indonesia ikut membangun dan menguasai teknologi chip serta pengendali berbasis AI.
Danantara Technology Innovation Investment Forum atau DTIIF 2026 digelar 26-28 Oktober 2026 di Jakarta. Forum ini menjadi ajang realisasi kesepakatan dengan perusahaan Silicon Valley dan mitra global. Danantara telah menjalin kerja sama strategis dengan ARM dari Inggris untuk desain chip nasional. Program pengembangan data center mereka mencakup kapasitas sekitar 1 gigawatt.
Lonjakan Kapasitas Data Center Indonesia
Kapasitas data center operasional di Indonesia saat ini berada di kisaran 580-900 megawatt. Laporan pasar mencatat sekitar 90 fasilitas yang beroperasi, dengan konsentrasi utama di Jakarta dan Jawa Barat. Pipeline pembangunan mencakup 40 proyek baru yang diperkirakan menambah lebih dari 2,4 gigawatt kapasitas daya hingga 2031.
Jakarta sendiri menyumbang lebih dari 1,5 gigawatt dari rencana kapasitas tersebut. Operator terkemuka meliputi DCI Indonesia, Telkom Indonesia melalui NeutraDC, BDx Data Centers, Princeton Digital Group, DayOne, dan ST Telemedia. Microsoft menjadi salah satu pembeli lahan terbesar di kawasan industri Cikarang dengan nilai transaksi ratusan miliar rupiah.
NVIDIA menjajaki investasi data center senilai USD 4,5 miliar atau sekitar Rp80 triliun di Batam. Digital Edge mengembangkan kampus CGK di Bekasi dengan kapasitas awal 500 megawatt yang bisa naik hingga 1 gigawatt. Indosat melalui Zankore menargetkan kapasitas 1 gigawatt dalam tiga tahun. Oracle dan Google Cloud juga memperluas kehadiran cloud region mereka di Indonesia.
Menurut data Kementerian Investasi dan Hilirisasi atau BKPM yang mengutip Mordor Intelligence, nilai pasar data center Indonesia mencapai sekitar 1,44 miliar dolar AS pada 2025. Angka itu diproyeksikan naik menjadi 1,83 miliar dolar AS pada 2026 dan terus tumbuh hingga 3,48 miliar dolar AS pada 2031 dengan CAGR 13,71 persen.
Tantangan Listrik dan Pemerataan Lokasi
Pertumbuhan pesat membawa tantangan infrastruktur. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebutkan kebutuhan tambahan listrik hingga 20 gigawatt untuk mendukung data center. Jaringan Jawa-Madura-Bali saat ini hanya mampu menyerap sekitar 3.200 megawatt dari proyeksi permintaan yang jauh lebih tinggi.
PLN telah mengalokasikan kapasitas besar kepada operator seperti BDx dan Digital Edge. Pemerintah mendorong prinsip Bring Your Own Energy agar proyek data center tidak membebani pasokan listrik masyarakat. Ketersediaan air baku dan sistem pendinginan juga menjadi perhatian penting, terutama di Batam yang mulai mewajibkan pengolahan air mandiri.
Kementerian Komunikasi dan Digital mendorong pemerataan lokasi data center. Wakil Menteri Nezar Patria menyatakan pengembangan infrastruktur AI tidak boleh terpusat hanya di Jawa dan Batam. Sulawesi dan Kupang menjadi opsi wilayah baru. Target kapasitas nasional mencapai 1,3 gigawatt pada 2027-2028. Draft peraturan presiden terkait data center dan kabel laut sedang memasuki tahap konsultasi publik.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya mengungkapkan potensi investasi data center di Indonesia mencapai USD 15-20 miliar. Penguatan infrastruktur listrik, lahan, dan air menjadi kunci agar investasi ini benar-benar terwujud dan memberikan dampak ekonomi luas.
Investasi infrastruktur server lokal berskala besar ini menandai pergeseran Indonesia dari konsumen teknologi menjadi pemain yang ikut menguasai ekosistem. Danantara dan pemerintah berharap langkah ini menciptakan lapangan kerja, transfer teknologi, serta kedaulatan digital nasional dalam jangka panjang.