Cuaca Ekstrem dan Risiko Penerbangan Saat Musim Hujan

Cuaca Ekstrem Penerbangan

suaradunianusantara.net – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi cuaca ekstrem yang dapat memengaruhi rute penerbangan selama puncak musim hujan Januari–Februari 2026. Peningkatan pertumbuhan awan Cumulonimbus, turbulensi, serta potensi wind shear menjadi perhatian utama. Dalam konteks transportasi udara, kondisi ini berisiko mengganggu operasional bandara dan keselamatan penerbangan. BMKG menegaskan dinamika atmosfer masih aktif hingga akhir Februari dan awal Maret 2026.

Secara faktual, periode ini dipengaruhi kombinasi Monsun Asia, Madden Julian Oscillation, serta gelombang atmosfer. Kelembapan udara terpantau tinggi di banyak wilayah. Kondisi tersebut memperbesar peluang terbentuknya awan konvektif intens.

Awan CB dan Gangguan Operasional Bandara

BMKG mengingatkan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus atau CB pada Maret 2026 di Sumatera Barat, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, hingga Pasifik Utara. Awan jenis ini identik dengan hujan lebat, badai guntur, dan petir.

Dalam praktiknya, awan CB dapat menurunkan jarak pandang secara signifikan. Operasional lepas landas dan pendaratan menjadi lebih menantang. Intensitas hujan tinggi juga berpotensi menyebabkan genangan di area bandara.

Baca Juga :  Diplomasi Maritim Tegas Indonesia Hadapi Klaim Sepihak di Natuna

Di waktu yang sama, potensi bibit siklon atau siklon tropis di wilayah selatan Indonesia turut meningkatkan dinamika atmosfer. Artinya, pola cuaca bisa berubah cepat dalam hitungan jam.

Turbulensi dan Wind Shear di Aerodrome

BMKG menegaskan bahwa awan CB dapat memicu turbulensi di jalur penerbangan. Turbulensi terjadi akibat perbedaan kecepatan dan arah angin di dalam awan konvektif.

Selain itu, fenomena wind shear atau perubahan angin mendadak di dekat permukaan menjadi perhatian khusus di aerodrome. Wind shear dapat memengaruhi stabilitas pesawat saat fase lepas landas maupun pendaratan.

Efek langsungnya terasa pada jadwal penerbangan. Maskapai dapat melakukan penyesuaian rute atau waktu keberangkatan demi keselamatan. Dalam perkembangan selanjutnya, koordinasi antara otoritas penerbangan dan BMKG menjadi krusial.

Sistem Ina-SIAM dan Mitigasi BMKG

Untuk mendukung keselamatan penerbangan, BMKG mengoperasikan System of Interactive Aviation Meteorology atau Ina-SIAM. Sistem ini menyediakan informasi meteorologi penerbangan secara interaktif dan real time.

Ina-SIAM membantu pilot dan pengelola lalu lintas udara memahami kondisi atmosfer terkini. Data mencakup prakiraan turbulensi, potensi awan CB, hingga arah dan kecepatan angin.

Baca Juga :  Beras Analog Uwi Perluas Pilihan Pangan Diaspora

Di tingkat operasional, BMKG juga menempatkan posko di kantor pusat dan berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan. Di daerah, 38 UPT BMKG mendukung pemantauan cuaca, termasuk di 96 bandara dan 13 pelabuhan.

BMKG menegaskan prakiraan akan terus diperbarui berdasarkan analisis terbaru. Informasi resmi tersedia melalui bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta kanal komunikasi resmi lainnya.

Related posts