Bara Karhutla Kalteng Belum Padam Meski Hujan Mulai Turun
Bara api di lahan gambut Kalimantan Tengah masih menyala di bawah permukaan hingga Rabu, 5 November 2026. Petugas terus melakukan pembasahan dan pemadaman karena risiko kebakaran baru belum hilang sepenuhnya.
Kabut asap tipis masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah pagi ini. Hujan yang mulai turun dalam beberapa hari terakhir belum mampu memadamkan bara api di dalam lapisan gambut. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat area yang masih ditangani di provinsi ini mencapai ratusan hektare.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan kondisi tersebut dalam konferensi pers daring. Menurutnya, lahan gambut yang kering menyimpan bara di bawah permukaan meskipun titik api di atas tanah sudah padam.
“Mengingat lahan tersebut merupakan lahan gambut, meskipun titik api yang ada di permukaan sudah padam, bara api di bawah permukaan masih ada. Kondisi ini sangat berpotensi memicu kebakaran hutan baru,” ujar Berton.
Luas Lahan Masih Ditangani di Kalteng
Data operasional BNPB per awal November menunjukkan Kalimantan Tengah menyumbang area kebakaran terluas di Pulau Kalimantan. Luas lahan yang masih dalam proses penanganan di Kalteng tercatat lebih dari 500 hektare. Angka ini sempat mengalami kenaikan dibanding hari sebelumnya.
Tim gabungan dari Manggala Agni, TNI, Polri, dan relawan terus bekerja di lapangan. Mereka fokus pada pembasahan lahan di kawasan gambut yang rawan. Operasi water bombing dan patroli udara juga masih digelar di beberapa titik prioritas.
Di Kabupaten Kotawaringin Timur, personel Satbrimob Polda Kalimantan Tengah mendistribusikan 1.000 liter air bersih kepada warga terdampak di sekitar Sungai Sekonyer. Langkah ini diambil untuk membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih akibat kabut asap dan gangguan sumber air lokal.
Dampak Kesehatan dan Lingkungan Masih Terasa
Kementerian Kesehatan mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut akibat karhutla sudah mencapai ratusan ribu di tujuh provinsi. Kalimantan menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kasus tinggi. Warga di Palangka Raya dan sekitarnya masih diimbau membatasi aktivitas di luar rumah, terutama anak-anak dan lansia.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam Pos Sampit juga memantau tujuh lokasi kemunculan orangutan yang terdampak. Beberapa kawasan bekas terbakar diduga memengaruhi pergerakan satwa dilindungi tersebut. Petugas terus melakukan pemantauan agar habitat tersisa tetap aman.
Di Kabupaten Barito Timur, api kembali menghanguskan sekitar 0,4 hektare lahan gambut di kawasan objek wisata Danau Dayu, Desa Dayu, Kecamatan Karusen Janang, pada 4 November 2026. Kejadian ini menambah daftar titik yang harus segera dipadamkan.
Hujan Belum Menjamin Lahan Aman
Meski curah hujan mulai meningkat, pihak berwenang mengingatkan agar masyarakat dan pemerintah daerah tidak terlena. Puncak musim hujan diperkirakan datang dalam waktu dekat, namun bara di dalam gambut tetap menjadi ancaman tersendiri.
BNPB menekankan pentingnya pemulihan ekosistem gambut secara jangka panjang. Pemadaman saja tidak cukup. Lahan yang sudah terbakar perlu segera dibasahi dan dikelola agar tidak mudah terbakar kembali di musim kemarau berikutnya.
Berdasarkan pantauan satelit, beberapa titik panas masih terdeteksi di wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah dalam 24 jam terakhir. Indeks kerawanan kebakaran di sebagian besar lahan gambut masih masuk kategori mudah hingga sangat mudah terbakar.
Warga di sejumlah desa sekitar kawasan gambut melaporkan kepulan asap tipis yang muncul kembali setelah hujan reda. Kondisi ini membuat petugas harus kembali ke lokasi untuk melakukan pendinginan dan penyiraman berulang.
Upaya Penegakan Hukum Tetap Berjalan
Sementara pemadaman terus dilakukan, proses hukum terhadap pihak yang diduga bertanggung jawab juga berlanjut. Sejumlah korporasi dan individu telah ditetapkan sebagai tersangka di berbagai daerah di Kalimantan. Pegiat lingkungan mendorong agar penegakan hukum tidak longgar meski hujan mulai turun.
Pemerintah daerah di Kalimantan Tengah dan sekitarnya diminta memperkuat koordinasi lintas sektor. Status siaga di beberapa wilayah masih diperpanjang untuk memastikan respons cepat jika muncul titik api baru.
Karhutla tahun 2026 di Kalimantan tercatat lebih luas dibanding beberapa tahun sebelumnya di periode yang sama. Kalimantan menjadi pulau paling terdampak dengan ratusan ribu hektare lahan yang pernah terbakar sejak awal tahun. Data satelit menunjukkan puncak kejadian terjadi pada September lalu.
Hingga saat ini, fokus utama tetap pada Kalimantan Tengah sebagai wilayah dengan area penanganan terbesar. Tim lapangan mengerahkan ribuan personel dan armada udara untuk mempercepat proses pendinginan lahan.
Masyarakat diimbau segera melapor jika menemukan kepulan asap atau titik api baru di sekitar pemukiman. Kerja sama antara warga, petugas, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar bara yang tersisa tidak kembali membesar.
Dengan hujan yang mulai merata, harapan besar tertuju pada penurunan intensitas kebakaran dalam beberapa minggu ke depan. Namun, kewaspadaan tetap harus dijaga hingga lahan gambut benar-benar aman dari ancaman bara api bawah permukaan.