Wamentan Muhammad Saleh Mustafa di Jakarta, Sabtu (31/10/2026), menyatakan stok beras nasional 4,5 juta ton aman untuk 10 bulan. Di sisi lain, harga pangan masih mendorong inflasi September 2026 ke 3,28 persen secara tahunan.
Muhammad Saleh Mustafa, Wakil Menteri Pertanian, menyampaikan pernyataan itu dalam Rembuk Nasional Pemuda Indonesia ke-3 di Jakarta Selatan. Ia menyebut cadangan beras hingga Oktober 2026 sebagai capaian tertinggi. "Stok pangan nasional kita aman," ujarnya, seperti dikutip JawaPos.com. Wamentan juga membandingkan kondisi Indonesia dengan Inggris. Pemerintah Inggris pada 26 Oktober 2026 mengimbau warganya menyiapkan pangan untuk tiga hari.
Rincian Stok Beras Nasional di Gudang Bulog
Data Perum Bulog menunjukkan angka yang senada. Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut stok gudang pemerintah mencapai 4,55 juta ton pada pertengahan Oktober 2026. JawaPos.com mengutip pernyataan itu dari Antara. Jumlah tersebut turun dari 5,4 juta ton pada September. Penyaluran besar untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), bantuan pangan, dan bantuan bencana menjadi penyebabnya.
Dari sisi serapan, Bulog mencatat pengadaan 4,11 juta ton setara beras hingga 8 Oktober 2026. Realisasi itu melampaui target pemerintah sebesar 4 juta ton. Rizal menilai stok besar menjadi bekal menghadapi El Niño dan musim paceklik. Ia meminta masyarakat tidak panik dan "tidak perlu bimbang dan ragu".
Klaim ketahanan stok memang berbeda antarpejabat. Rizal memperkirakan stok 4,55 juta ton bertahan sekitar enam bulan, sedangkan Wamentan menyebut 10 bulan. Dalam keterangan yang tersedia, dasar hitung kedua perkiraan itu belum dirinci. Bulog sendiri menyebut potensi standing crop sekitar 10 juta ton. Persediaan di masyarakat dan pelaku usaha juga disebut 10 juta ton.
Harga Beras dan Bantuan Pangan Jelang Nataru
Stok yang besar belum otomatis menurunkan harga di pasar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga rata-rata nasional beras medium Rp14.677 per kilogram pada pekan keempat Oktober 2026. Angka itu naik 0,16 persen dari pekan sebelumnya.
Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk meredam tekanan tersebut. Bulog mempercepat bantuan pangan Oktober–Desember 2026 bagi 33,2 juta penerima. Setiap penerima mendapat 10 kilogram beras per bulan. Badan Pangan Nasional juga menambah alokasi SPHP sebanyak 74,18 ribu ton hingga 20 November 2026. Dalam keterangan tertulis 26 Oktober 2026, Bulog menjamin kebutuhan Natal dan Tahun Baru terpenuhi.
Inflasi September 2026 Didorong Harga Pangan
BPS mencatat inflasi September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan dan 0,30 persen secara bulanan. Inflasi inti berada di 2,84 persen. Inflasi tahun kalender Januari–September mencapai 2,17 persen. Menurut analisis LPEM FEB UI, angka tahunan itu masih dalam sasaran Bank Indonesia 2,5 persen plus minus 1 persen. Namun posisinya semakin mendekati batas atas.
Laporan Dewan Ekonomi Nasional merinci pemicunya. Inflasi kelompok harga bergejolak naik menjadi 5,03 persen dari 4,06 persen secara tahunan. Daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi mendorong kenaikan itu. Kemarau panjang akibat El Niño ikut menekan pasokan. Laporan yang sama memperkirakan potensi produksi beras September–November turun 12 persen secara tahunan, sekitar 1 juta ton.
Proyeksi Inflasi Oktober dan Peringatan BPS
BPS dijadwalkan merilis data inflasi Oktober 2026 pada Senin (2/11/2026). Konsensus 11 lembaga yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan inflasi 0,22 persen bulanan dan 3,25 persen tahunan. Proyeksi investor.id sedikit lebih rendah, yakni 3,19 persen tahunan. Rata-rata inflasi bulanan Oktober dalam lima tahun terakhir hanya 0,11 persen.
Kepala ekonom Maybank Indonesia, Juniman, menyebut gula, minyak goreng, daging sapi, cabai merah, dan bawang merah sebagai pendorong. Direktur Statistik Harga BPS, Sarpono, mengingatkan pola musiman akhir tahun. Menurutnya, pada data historis, "inflasi Desember juga lebih tinggi dibandingkan November". Ia meminta pemerintah mewaspadai tekanan harga selama Oktober hingga Desember.
Secara ringkas, stok beras nasional yang besar memberi bantalan pasokan menjelang Nataru. Namun harga beras dan pangan lain masih bergerak naik. Pernyataan Wamentan soal ketahanan 10 bulan perlu dibaca bersama angka Bulog dan harga pasar. Data inflasi BPS pada 2 November akan menunjukkan arah tekanan harga berikutnya.
Data diperbarui per 1 November 2026 dari BPS, Bulog, Dewan Ekonomi Nasional, LPEM FEB UI, dan CNBC Indonesia.