Jejak Martha Tilaar bermula dari garasi salon berukuran 6 x 4 meter di Menteng pada 3 Januari 1970. Setelah ia berpulang pada Rabu, 14 Oktober 2026, perjalanan itu kembali dikenang publik.
Di Amerika Serikat, Martha menempuh pendidikan di Academy of Beauty Culture, Indiana, dan lulus. Setelah lulus, ia bekerja sekaligus membuka praktik salon mandiri. Martha bahkan sempat menyambi sebagai pengasuh anak. Promosi salonnya ia lakukan dari pintu ke pintu.
Sekembalinya ke Jakarta, Martha membawa modal Rp1 juta dari tabungan di Amerika Serikat dan sumbangan keluarga. Pada 3 Januari 1970, ia mendirikan Martha’s Salon. Tempatnya hanya sebuah garasi sederhana berukuran 6 x 4 meter di Menteng.
Salon kecil itu berkembang pesat berkat pendekatan personal yang hangat kepada para pelanggan.
Dari Resep Mak Oco hingga Kaplet Wulandari
Pada 1972, Martha berkelana ke Eropa untuk mempelajari seni meramu kosmetik. Namun kesadarannya akan kekayaan alam Nusantara membawanya pulang pada akar tradisi. Ia menggali rahasia perawatan dari dukun beranak dan neneknya, Mak Oco, seorang peramu jamu ulung.
Ramuan jamu itu punya makna yang sangat pribadi. Martha sempat divonis mandul setelah 11 tahun menikah. Berkat ketelatenannya meminum jamu sang nenek, ia mengandung menjelang menopause. Anak pertamanya lahir saat ia berusia 42 tahun.
Resep tersebut kelak ia abadikan menjadi produk Kaplet Wulandari.
Martina Berto dan Lahirnya Sariayu
Babak baru bisnis Martha dimulai pada 1977. Ia menggandeng pendiri Kalbe Farma, Boenjamin Setiawan, dan Theresia Harsini Setiady untuk mendirikan PT Martina Berto. Kolaborasi itu melahirkan produk Sariayu Martha Tilaar.
Bisnis ini kian menggurita lewat berdirinya pabrik di Kawasan Industri Pulo Gadung. Grup ini juga mengakuisisi sejumlah perusahaan pada era 1988–1995. Melalui Martha Tilaar's Innovation Center (MTIC), grup ini menelurkan merek seperti Caring, Belia, Biokos, PAC, Dewi Sri Spa, dan Jamu Garden yang menembus pasar internasional.
Puncaknya datang pada 1999. Keluarga Martha Tilaar mengakuisisi penuh kepemilikan PT Martina Berto dan mengonsolidasikannya ke dalam Martha Tilaar Group.
Penghargaan yang Menyertai Langkahnya
Kiprah panjang itu diganjar puluhan penghargaan nasional dan global. Martha menerima gelar Doktor Kehormatan bidang Fashion and Artistry dari World University Tuscon pada 1984. Ban Ki-moon menyerahkan penghargaan PBB kepadanya di UN Global Compact Leaders Summit pada 2002.
Martha juga menerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan pada 1993 dan Bintang Budaya Parama Dharma pada 2016. Universitas Leiden bahkan mengabadikan namanya pada spesies anggrek Kalimantan, Ceologyne Marthae.
Warisan Sang Perintis
Jejak itu kini menjadi warisan bagi industri kecantikan Indonesia. Dari garasi kecil di Menteng, Martha Tilaar menunjukkan bahwa tradisi Nusantara mampu bersaing di panggung dunia.