Karhutla Palangka Raya meluas dan kabut asap pekat masih mengganggu aktivitas warga. BPBD bersama petugas gabungan terus memadamkan api serta membasahi lahan yang terindikasi terbakar.
Kabut asap yang pekat masih menyelimuti kawasan terdampak. Warga di sejumlah wilayah kota merasakan aktivitas harian terganggu. Palangka Raya merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah.
Penanganan Karhutla Palangka Raya Berlangsung Pagi hingga Malam
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi, menjelaskan pola kerja petugas. Ia menyampaikannya dalam wawancara bersama PRO3 RRI pada Jumat, 16 Oktober 2026.
"Penanganan karhutla kami lakukan sejak pagi hingga malam dengan sistem pergantian petugas, agar upaya pemadaman berjalan optimal," kata Heri.
Pembagian jadwal membuat tenaga petugas tetap terjaga. Dengan begitu, pemadaman tidak berhenti saat malam tiba.
Setiap titik api baru langsung mereka tangani. Langkah cepat itu bertujuan mencegah api merambat ke kawasan sekitarnya. BPBD menetapkan status penanganan sejak Juli 2026. Sejak saat itu, tim mencatat sekitar 1.000 hektare lahan berhasil ditangani.
Lahan Gambut Dalam Jadi Lokasi Kebakaran Terbanyak
Heri menyebut lahan gambut dalam menjadi lokasi mayoritas kebakaran yang ditangani. Perkiraan itu mencakup sekitar 80 persen kejadian. Api di lahan gambut mudah bertahan di bawah permukaan, sehingga pembasahan perlu berulang.
"Kami memperkirakan sekitar 80 persen kebakaran terjadi di lahan gambut dalam, dan beberapa kejadian diduga berkaitan dengan pembakaran," ujarnya.
Kawasan terdampak terluas meliputi Kecamatan Jekan Raya, Sebangau, dan Bukit Batu. Sebagian Kecamatan Pahandut turut terdampak. Petugas gabungan melakukan pemadaman sekaligus pembasahan pada lahan yang terindikasi terbakar.
Sumber Air Jauh, Petugas Butuh Tambahan Mobil Tangki
Soal personel, Heri memastikan jumlah petugas di lapangan masih mencukupi. Namun, sumber air di kawasan hutan menyulitkan proses pemadaman.
"Lokasi sumber air cukup jauh dari titik kebakaran. Sehingga kami membutuhkan tambahan mobil tangki untuk membantu petugas," ucap Heri.
Untuk menjangkau titik api, petugas membutuhkan selang hingga sekitar 200–300 meter ke dalam hutan. Kabut asap masih pekat. Karena itu, BPBD mengerahkan organisasi perangkat daerah dan relawan. Mereka membantu Satgas Karhutla, terutama memenuhi kebutuhan air selama penanganan berlangsung.
Kondisi itu menuntut koordinasi lintas pihak di lapangan. Tim gabungan, perangkat daerah, dan relawan berbagi tugas sesuai kebutuhan.
Penanganan karhutla Palangka Raya masih berlanjut hingga kini. BPBD menyebut tambahan mobil tangki sebagai kebutuhan mendesak bagi petugas di lapangan. Pemadaman dan pembasahan lahan terus berjalan selama kabut asap belum reda.