Nasional

Demokrat Pilpres 2029 Belum Bersikap, Posisi AHY Disorot

Demokrat Pilpres 2029
Demokrat Pilpres 2029

Demokrat Pilpres 2029 masih menjadi tanda tanya setelah Golkar, PKB, dan PAN mempertegas dukungan kepada Prabowo Subianto. Pengamat menilai posisi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menentukan langkah partai itu.

Partai Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Amanat Nasional (PAN) mulai mempertegas arah dukungan kepada Prabowo Subianto menuju Pilpres 2029. Partai Demokrat, di sisi lain, belum mengumumkan keputusan apa pun soal pencalonan pada pemilu mendatang.

Demokrat Pilpres 2029 dan Kalkulasi Posisi AHY

Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, membaca langkah Demokrat lewat posisi AHY. Ia menyebut AHY sebagai ketua umum sekaligus figur sentral partai. Menurut dia, perhitungan Demokrat tidak berhenti pada sosok yang didukung. Peluang AHY di bursa capres maupun cawapres ikut masuk hitungan.

Arifki menyampaikan penilaian itu dalam keterangan yang diterima pada Senin (12/10/2026). “Golkar, PKB, dan PAN sudah lebih dulu menyatakan dukungan kepada Prabowo. Demokrat sepertinya punya kalkulasi sendiri. Salah satu pertanyaan pentingnya adalah bagaimana posisi AHY dalam Pilpres 2029. Apakah Demokrat akan mendorongnya sebagai capres, membuka peluang sebagai cawapres, atau memilih strategi lain?”

Dukungan Awal Belum Mengunci Kursi Cawapres

Arifki menegaskan bahwa partai yang lebih awal menyatakan dukungan belum tentu otomatis mengamankan kursi cawapres. Partai yang belum memutuskan pun belum tentu kehilangan peluang. Penentuan akhir, kata dia, bergantung pada komunikasi dan kesepakatan antarpartai.

“Mendukung Prabowo dan memperjuangkan posisi AHY adalah dua persoalan politik yang berbeda. Demokrat perlu menghitung bagaimana menjaga hubungan dengan pemerintah sekaligus memastikan kepentingan partainya tetap masuk dalam pembicaraan menuju 2029,” ujarnya.

Nilai Tambah Elektoral dan Latar Belakang Militer

Tantangan Demokrat tidak hanya terletak pada komunikasi politik. Partai berlambang bintang mercy itu juga harus menghitung nilai tambah elektoral bila menimbang AHY sebagai pendamping Prabowo. Kesamaan latar belakang militer antara keduanya menjadi salah satu faktor dalam simulasi pasangan calon.

“Kalau AHY masuk dalam bursa cawapres, pertanyaannya sederhana: apa nilai tambah yang bisa ia bawa? Apakah dari sisi dukungan politik, jangkauan pemilih, atau faktor lain yang bisa melengkapi Prabowo? Itu harus dihitung secara realistis,” kata Arifki.

Dinamika Koalisi dan Wacana Ambang Batas Pencalonan

Dukungan awal dari Golkar, PKB, dan PAN dinilai belum mengunci peta kompetisi cawapres. Pertimbangan koalisi masih bisa bergerak mengikuti dinamika ke depan. Wacana perubahan ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) ikut membuka ruang perubahan itu.

Arifki menilai sikap Demokrat yang belum memutuskan bukan langkah menjauh dari Prabowo. Namun, jumlah partai pendukung terus bertambah. Karena itu, Demokrat tetap mencermati momentum untuk memperjelas posisi tawarnya.

“Pertaruhan Demokrat sepertinya bukan sekadar ikut atau tidak ikut mendukung Prabowo. Yang juga penting adalah bagaimana posisi AHY dalam peta politik 2029. Pada akhirnya, Demokrat ingin menentukan sendiri apa yang ingin diperjuangkan tanpa buru-buru mendukung Prabowo dua periode, dengan tetap memperhitungkan dinamika koalisi dan peluang yang tersedia untuk AHY,” pungkas Arifki.

Dengan demikian, peta dukungan menuju 2029 masih terbuka. Golkar, PKB, dan PAN sudah menentukan arah, sedangkan Demokrat memilih menimbang langkah. Keputusan akhir partai itu akan bergantung pada posisi AHY dan kesepakatan antarpartai dalam koalisi.