Ekonomi Bisnis

MSCI Standalone Market Imbas IHSG Terjun ke Level 5.223

MSCI Standalone Market
MSCI Standalone Market

MSCI Standalone Market menjadi opsi klasifikasi baru untuk Indonesia, dan pasar langsung bereaksi pada Jumat (16/10/2026). IHSG merosot 630,77 poin atau 10,75 persen ke level 5.223 pada akhir perdagangan sesi I.

Pergerakan indeks menjadi sorotan sejak pagi. Bursa sempat menghentikan perdagangan sementara atau trading halt. Tekanan serupa menimpa nilai tukar rupiah. Pelaku pasar bereaksi setelah MSCI mengumumkan rencana mengubah klasifikasi pasar modal Indonesia.

Detail Pergerakan IHSG pada Perdagangan Sesi I

Berdasarkan data Phintraco Sekuritas, IHSG dibuka di level 5.394. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.405. Titik terendah berada di 5.193 sepanjang sesi pertama. Selisih antara level tertinggi dan terendah mencapai 212 poin. IHSG pun menutup sesi di level 5.223 setelah merosot 630,77 poin atau 10,75 persen.

Nilai transaksi saham tercatat Rp17,30 triliun. Volume transaksi mencapai 37,83 miliar saham. Frekuensi perdagangan sebanyak 1.336.396 kali. Investor tetap bertransaksi di tengah pelemahan indeks.

Alasan MSCI Standalone Market Muncul

MSCI menyebut tiga kekhawatiran utama. Ketiganya mencakup aksesibilitas investasi, transparansi kepemilikan saham, dan tata kelola pasar modal Indonesia. Lembaga indeks itu menegaskan bahwa rencana perubahan klasifikasi masih berada pada tahap konsultasi.

Dalam pernyataannya, MSCI menjelaskan sikap tersebut. "Oleh karena itu, MSCI menganggap klasifikasi Indonesia sebagai Pasar Berkembang yang berkelanjutan tidak lagi tepat dan meluncurkan konsultasi mengenai proposal untuk mengklasifikasikan ulang Indonesia sebagai Pasar Mandiri," kata MSCI dikutip Reuters, Jumat (16/10/2026).

Jika proposal itu disetujui, status pasar saham Indonesia bergeser dari kelompok Pasar Berkembang. Standalone Market merupakan kategori terpisah di luar kelompok Pasar Maju dan Pasar Berkembang.

Peringatan Juni 2026 Jadi Latar BelakangImbas

Konsultasi ini menyusul peringatan yang MSCI sampaikan pada Juni 2026. Saat itu, MSCI menyatakan Indonesia berpotensi mengalami reklasifikasi. Kondisi itu berlaku apabila persoalan aksesibilitas pasar tidak kunjung teratasi.

Respons Pemerintah dan Langkah Berikutnya

Di Jakarta, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi laporan tersebut dengan mempertanyakan waktunya. Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia kuat dan menyebut laporan MSCI sebagai penilaian berbasis faktor sentimental. Pemerintah akan membahas dampaknya bersama KSSK, yang terdiri dari Kemenkeu, BI, OJK, dan LPS.

Rencana MSCI Standalone Market masih berupa proposal dalam konsultasi. Namun, tekanan terhadap IHSG sudah terasa pada hari yang sama. Perkembangan berikutnya bergantung pada hasil konsultasi dan pembahasan pemerintah. Investor kini menanti sikap resmi pemerintah dan kelanjutan proses konsultasi MSCI.