Politisi PDI Perjuangan Mohamad Guntur Romli menanggapi pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo soal operasi politik pada Jumat (16/10/2026). Guntur menilai ucapan Jokowi hanya curhat, sebab menurutnya lolosnya Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden justru lahir dari operasi politik kekuasaan.
Tanggapan tersebut disampaikan Guntur kepada wartawan pada Jumat (16/10/2026). Ia merespons pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang menyebut isu ijazah dan wacana pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai bagian dari skenario operasi politik.
Guntur tidak sependapat dengan pembacaan itu. Menurut dia, ucapan mantan presiden tersebut tak lebih dari ungkapan perasaan pribadi. Politisi PDIP ini lalu membalik argumen Jokowi. Proses pencalonan dan kelolosan Gibran sebagai wakil presiden, kata dia, justru dipengaruhi serangkaian operasi politik kekuasaan.
Ia merangkum sikapnya dalam satu kalimat tegas. "Jokowi sedang curhat, operasi politik yang ia lakukan untuk meloloskan Gibran," kata Guntur saat dihubungi wartawan.
Pernyataan itu muncul ketika isu ijazah dan wacana pemakzulan Gibran ramai dibicarakan di ruang publik. Kedua tokoh kini saling menafsirkan asal-usul keramaian tersebut dengan sudut pandang yang bertolak belakang.
Guntur Romli Uraikan Indikasi Operasi Politik
Berikutnya, Guntur menjabarkan sejumlah indikasi yang ia nilai sebagai bentuk manipulasi. Menurut dia, rangkaian langkah itu bertujuan memuluskan Gibran menuju kursi kepemimpinan nasional. Semua poin ia sebutkan sekaligus dalam satu pernyataan.
Dalam pernyataan itu, Guntur menegaskan, "Justru sebaliknya lolosnya Gibran itu karena operasi politik, operasi politik melalui putusan MK 90/2023, operasi politik Suket yang tidak ada dasar ijazahnya bisa keluar sehari, operasi politik PKPU No 19/2023 Pasal 18 ayat 3, operasi politik memanipulasi kekuasaan terutama oleh presiden yg berkuasa saat itu, Jokowi bapaknya Gibran dan Anwar Usman adik Ipar Jokowi dan paman Gibran."
Salah satu yang ia sorot adalah putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 90 Tahun 2023. Putusan itu membuka peluang bagi figur yang berpengalaman sebagai kepala daerah untuk maju dalam pemilihan presiden dan wakil presiden, meski belum berusia 40 tahun.
Soal surat keterangan atau suket, Guntur mengklaim dokumen tersebut bisa terbit dalam sehari tanpa dasar ijazah. Ia juga mempersoalkan Pasal 18 ayat 3 dalam Peraturan KPU Nomor 19 Tahun 2023. Menurut dia, aturan itu ikut memuluskan jalan Gibran.
Nama Anwar Usman turut ia singgung. Anwar menjabat Ketua Mahkamah Konstitusi saat putusan tersebut keluar. Guntur mengingatkan bahwa Anwar adalah adik ipar Jokowi sekaligus paman Gibran.
Seluruh poin di atas merupakan penilaian pribadi Guntur. Pernyataan itu disampaikan kepada wartawan dan belum tentu mewakili sikap resmi partainya.
Jokowi Sebut Ada Penumpang Gelap
Sebelumnya, Jokowi meyakini gelombang isu ijazah dan wacana pemakzulan anaknya merupakan hasil skenario operasi politik. Menurut dia, langkah sistematis itu sengaja dirancang untuk menggerogoti kredibilitas figur publik tertentu di tengah dinamika politik nasional.
Jokowi menyampaikannya saat ditemui wartawan pada Jumat (16/10/2026). "Ya kan sudah saya sampaikan sejak awal, ini ada operasi politik kemudian ada penumpang gelap yang menunggangi lagi. Jadi menjadi ramai sekali," terangnya.
Meski demikian, Jokowi tidak mempermasalahkan hal itu. Ia bersikap santai menghadapi tudingan ijazah palsu yang ramai dibicarakan.
Dua Tafsir atas Satu Isu
Kedua pernyataan ini memperlihatkan perbedaan pandangan yang tajam. Jokowi melihat isu ijazah dan pemakzulan sebagai skenario politik yang menyasar keluarganya. Guntur justru memandang proses lolosnya Gibran sebagai hasil operasi kekuasaan.
Dalam keterangan yang tersedia, belum tampak tanggapan langsung dari Gibran atas pernyataan Guntur. Publik masih menunggu sikap dari pihak-pihak terkait, termasuk lingkaran Jokowi dan Gibran.
Secara ringkas, Guntur Romli menolak anggapan bahwa isu tersebut merupakan operasi politik terhadap Gibran. Ia menyatakan operasi politik justru terjadi ketika Gibran maju sebagai wakil presiden. Jokowi, di sisi lain, tetap menilai ada penumpang gelap yang menunggangi keramaian dan memilih menghadapinya dengan santai.