Blokade Selat Hormuz mendorong negara-negara Timur Tengah mempercepat jalur ekspor alternatif untuk menghindari kawasan tersebut.
Blokade Selat Hormuz mulai mengubah peta distribusi minyak Timur Tengah. Sejumlah negara kini mempercepat pembangunan jalur ekspor alternatif.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur penting bagi pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia. Namun, gangguan di jalur tersebut mendorong negara produsen mencari rute lain.
Blokade Selat Hormuz Dorong Jalur Ekspor Baru
Arab Saudi mulai mengalihkan sebagian aliran minyak melalui pipa menuju Laut Merah dan Teluk Oman. Langkah serupa muncul di negara lainnya.
Sementara itu, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Irak memilih mengembangkan akses melalui Teluk Oman. Infrastruktur tersebut mengurangi ketergantungan terhadap Hormuz.
Analis Atlantic Council Landon Derentz menilai kondisi itu dapat merugikan Iran dalam jangka panjang. Pasar energi, menurutnya, mampu beradaptasi terhadap gangguan.
Yang menarik, Hamid Paktinat menghitung perubahan ketergantungan enam negara Arab terhadap Selat Hormuz. Analisisnya memperlihatkan penurunan cukup besar.
- Arab Saudi: dari 70 persen menjadi 15 persen.
- Uni Emirat Arab: dari 50 persen menjadi 15 persen.
- Irak: dari 100 persen menjadi 30 persen.
- Bahrain: dari 100 persen menjadi 15 persen.
- Kuwait dan Qatar: dari 100 persen menjadi di bawah 50 persen.
Selat Hormuz Menghadapi Pergeseran Pasar Energi
Dalam tiga tahun, perpindahan jalur ekspor berpotensi memangkas nilai strategis Hormuz hingga separuhnya. Jika berlangsung enam tahun, nilainya bisa hampir hilang.
Di sisi lain, negara konsumen mulai mengurangi ketergantungan terhadap minyak Timur Tengah. Amerika Serikat, Brasil, Kanada, dan Guyana ikut mengisi pasar global.
China juga memangkas impor minyak Iran hingga 32 persen. Penggunaan kendaraan listrik turut mengurangi kebutuhan minyak di negara tersebut.
Di Eropa, peralihan menuju listrik berbasis energi bersih juga berlangsung lebih cepat. Akibatnya, posisi strategis Hormuz menghadapi tekanan dari perubahan pasar.
Secara faktual, Oman justru berpeluang menjadi penghubung utama minyak Timur Tengah menuju pasar dunia. Negara itu sebelumnya tidak bergantung pada Selat Hormuz.

