suaradunianusantara.net — Dalam konteks situasi terkini, Iran menghadapi tekanan berlapis di tengah gelombang protes yang belum mereda. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa demonstrasi merupakan hak legal warga negara. Namun, ia menilai eskalasi kekerasan yang terjadi belakangan telah keluar dari substansi tuntutan rakyat.
Secara faktual, pernyataan ini muncul setelah sejumlah laporan menyebutkan pembakaran masjid serta penistaan Al-Qur’an di tengah aksi massa. Pemerintah Iran menilai insiden tersebut bukan bagian dari aspirasi publik, melainkan indikasi intervensi eksternal.
Pemerintah Pisahkan Protes dan Kerusuhan
Dalam pembacaan pemerintah, Pezeshkian menegaskan komitmen kabinetnya untuk menanggapi keluhan ekonomi masyarakat. Ia menjelaskan bahwa para pedagang dan pelaku usaha pasar telah diundang berdialog langsung dengan pemerintah.
“Kami menganggap protes rakyat sebagai hal yang sah,” kata Pezeshkian. Ia menambahkan bahwa negara berkewajiban menjamin keadilan distribusi subsidi tanpa membedakan latar belakang warga.
Namun pada praktiknya, pemerintah menolak keras tindakan perusakan fasilitas umum dan simbol keagamaan. Menurut Pezeshkian, pembakaran masjid dan Al-Qur’an adalah tindakan yang bertentangan dengan nilai peradaban Iran.

Tuduhan Keterlibatan Israel dan Amerika Serikat
Yang jadi sorotan, Pezeshkian secara terbuka menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan. Ia menyebut musuh Iran gagal menciptakan instabilitas saat konflik singkat pada Juni 2025, sehingga kini memanfaatkan tekanan ekonomi sebagai pemicu.
Lebih jauh, ia menyatakan bahwa sejumlah elemen telah dilatih di luar negeri dan dikirim untuk memprovokasi kekerasan. Di lapangan, kelompok ini dituding melakukan pembakaran masjid, menyerang pasar, serta membunuh warga sipil.
“Tentu saja para penjahat ini bukan berasal dari Iran,” tegasnya.
Dampak Sosial dan Keamanan
Dampaknya terasa setelah tewasnya Farajollah Shooshtari, aktivis sosial dan putra mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam, di Mashhad. Insiden ini memperkuat narasi pemerintah mengenai bahaya kerusuhan bersenjata.
Di sisi lain, pemadaman internet menyulitkan verifikasi independen. Meski begitu, video yang beredar memperlihatkan kerumunan massa, api yang melalap bangunan masjid, serta seruan anti-pemerintah.
Tekanan Eksternal dan Arah Krisis
Pada saat bersamaan, laporan internasional menyebut Amerika Serikat tengah menimbang langkah strategis tambahan terhadap Teheran. Mobilisasi aset militer di Timur Tengah dinilai meningkatkan ketegangan kawasan.
Kesimpulannya sederhana, Iran kini berada pada persimpangan krisis domestik dan tekanan geopolitik. Isu Israel, pembakaran masjid, serta simbol Al-Qur’an menjadi penanda bahwa konflik ini telah melampaui sekadar persoalan ekonomi.
