Nilai strategis Selat Hormuz menghadapi tekanan setelah Iran mulai merasakan dampak ekonomi dari perubahan jalur dan permintaan minyak.
Nilai strategis Selat Hormuz kini menghadapi tekanan dari dua arah. Negara produsen membangun rute baru, sedangkan konsumen mengurangi ketergantungan minyak.
Perubahan tersebut mulai memengaruhi perhitungan politik di Teheran. Sejumlah pejabat Iran bahkan menyoroti tekanan ekonomi akibat konflik dengan Amerika Serikat.
Dampak Ekonomi Selat Hormuz Mulai Terasa di Iran
Ketua DPR Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan risiko ekonomi yang semakin besar. Ia menilai kekuatan militer tidak cukup tanpa pertumbuhan ekonomi.
Pada saat yang sama, Presiden Masoud Pezeshkian mendorong penghentian konflik dengan Amerika Serikat. Ia menyebut perang harus berhenti ketika Iran masih berada di atas angin.
Gubernur bank sentral Iran Abdolnaser Hermmati juga menyoroti tekanan ekonomi. Ia menyebut sanksi, blokade, penghentian ekspor minyak, dan anggaran sebagai tantangan utama.
Lebih jauh, nilai rial Iran pada pekan ini jatuh hingga lebih dari 1,9 juta rial per dolar AS. Angka tersebut menjadi rekor terendah.
Ketergantungan Energi Global Mulai Berubah
Di lapangan, negara-negara Arab terus mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz. Arab Saudi mengembangkan jalur menuju Laut Merah, sedangkan negara lain mengarah ke Teluk Oman.
Artinya, ancaman penutupan Hormuz justru mendorong pasar mencari perlindungan dari gangguan serupa. Dalam tiga tahun, perpindahan ekspor dapat mengikis nilai strategisnya hingga separuh.
Jika perubahan berlangsung enam tahun, Selat Hormuz berpotensi kehilangan hampir seluruh nilai strategisnya. Oman kemudian dapat mengambil posisi sebagai jalur penghubung utama.
Selain itu, permintaan minyak Timur Tengah ikut menghadapi perubahan. China memangkas impor minyak Iran hingga 32 persen, salah satunya karena penggunaan kendaraan listrik.
Di Eropa, peralihan dari energi fosil menuju listrik berbasis energi bersih juga semakin cepat. Dampaknya, pasar global tidak lagi sepenuhnya bergantung pada minyak kawasan Teluk.
Yang jadi sorotan, jurnalis ekonomi Teheran Hamid Asefi menyebut kondisi tersebut sebagai paradoks Hormuz. Menurutnya, senjata yang terus digunakan dapat kehilangan daya tekan.
Karena itu, persoalan Iran kini bukan sekadar kemampuan menutup Selat Hormuz. Nilai strategis jalur tersebut juga bergantung pada seberapa besar dunia masih membutuhkannya.
