Sebuah pertunjukan teater jarang menghasilkan satu makna tunggal ketika ditonton oleh mata yang berbeda-beda. Hal itu tampak jelas dalam pementasan Cara Menjadi Sederhana di Ngaos Art, Tasikmalaya, pada 21 Agustus 2026, sebelum karya ini dibawa ke Festival Teater Dosen Indonesia 2026 di ISI Yogyakarta. Kisah sederhana tentang tiga tokoh—Mimi, Kido, dan Miqdam—yang tak kunjung bisa makan karena menunggu sebuah sendok, ternyata memantik sedikitnya lima pembacaan berbeda dari para pengamat dan praktisi teater yang hadir. Berikut rangkumannya.
1. Epistemologi Tubuh — Dr. Rahman Sabur
Dr. Rahman Sabur membaca absurditas dalam karya ini tidak berhenti pada permainan logika yang terbalik semata. Baginya, tokoh-tokoh dalam pertunjukan bukan manusia yang kehilangan akal, melainkan manusia yang terlalu patuh kepada akal yang telah dilembagakan. Mereka mengetahui bahwa makan itu sederhana, tetapi pengetahuan tersebut tidak lagi cukup untuk membuat mereka bertindak. Menurut Sabur, di titik itulah absurditas menemukan tragedinya: manusia masih memiliki kehendak, tetapi kehilangan keberanian untuk menggunakan kehendaknya. Pembacaan ini menempatkan persoalan pertunjukan bukan pada tataran pikiran, melainkan pada tataran tubuh yang telah kehilangan kepercayaan pada instingnya sendiri.
2. Problem Eksistensial Sehari-hari — Arif, S.Pd., M.Sn.
Berbeda dengan Sabur yang menyoroti tubuh, Arif melihat kekuatan karya ini pada kemampuannya menghadirkan gagasan filosofis melalui pengalaman sehari-hari yang akrab bagi siapa saja. Ia menegaskan bahwa kesederhanaan dalam karya ini bukan kategori estetika, melainkan problem eksistensial. Manusia modern, menurutnya, tidak selalu menderita karena kekurangan pilihan, tetapi justru karena terlalu banyak sistem yang menentukan bagaimana ia harus memilih. Sendok, dalam pandangannya, menjadi benda kecil yang mengungkap persoalan besar: kapan manusia berhenti meminta legitimasi kepada dunia dan mulai bertanggung jawab terhadap keberadaannya sendiri.
3. Objek yang Tidak Hadir sebagai Pusat Dramaturgi — Wit Jabo
Sebagai praktisi teater, Wit Jabo memberikan catatan yang lebih teknis dari sisi dramaturgi. Ia menyoroti bagaimana benda yang tidak hadir di atas panggung justru menjadi pusat dari keseluruhan pertunjukan. Sendok itu tidak ada, tetapi seluruh perilaku tokoh ditentukan oleh ketidakhadirannya. Secara teatrikal, hal ini menarik karena objek material berubah menjadi kekuatan imaterial—ia seperti prosedur, notifikasi, aturan, dan suara otoritas yang tidak selalu terlihat, tetapi mampu mengendalikan tubuh manusia. Pembacaan Wit Jabo membuka ruang diskusi tentang bagaimana ketiadaan dapat menjadi elemen dramatik yang justru lebih kuat daripada kehadiran.
4. Refleksi atas Kebiasaan Menunda Hidup — Moa Aziz
Jika tiga pembacaan sebelumnya cenderung berbicara pada tataran struktural dan filosofis, Moa Aziz membawa pertunjukan ini kembali ke pengalaman personal setiap penonton. Ia membaca *Cara Menjadi Sederhana* sebagai refleksi mengenai kebiasaan manusia menunda kehidupan. Menurutnya, semua orang memiliki “sendok” yang mereka tunggu—mengatakan akan hidup setelah sukses, setelah diakui, atau setelah keadaan membaik. Persoalannya, kehidupan tidak pernah benar-benar menunggu seseorang selesai mempersiapkan diri. Pembacaan ini menjadikan pertunjukan sebagai cermin bagi penonton untuk menengok kebiasaan menunda dalam hidupnya masing-masing.
5. Etika Kebangsaan dan Otonomi Manusia — Aris Sehat Tentrem
Pembacaan kelima datang dari Aris Sehat Tentrem, yang melihat dimensi sosial-politik karya ini dalam bentuk yang lebih halus. Menurutnya, nasionalisme dalam karya ini hadir bukan melalui slogan, melainkan melalui kritik terhadap mentalitas yang membuat manusia kehilangan kemandirian dalam menentukan tindakan. Ia menyebut nasionalisme dalam karya ini hadir sebagai etika keberanian: bangsa yang dewasa bukan bangsa yang memiliki aturan paling banyak, melainkan bangsa yang mampu membedakan mana aturan yang menjaga kehidupan dan mana aturan yang justru membuat kehidupan berhenti. Ketika manusia tidak mampu makan tanpa prosedur, persoalannya bukan lagi tentang sendok, tetapi tentang hilangnya otonomi manusia.
Satu Panggung, Lima Pintu Masuk
Kelima pembacaan ini menunjukkan betapa kayanya lapisan makna yang berhasil dibangun oleh Cara Menjadi Sederhana hanya dari premis yang tampak remeh: dua orang menunggu sendok sebelum makan. Dari tubuh yang kehilangan keberanian, sistem yang menuntut legitimasi berlebihan, dramaturgi ketidakhadiran, kebiasaan menunda hidup, hingga etika kebangsaan—semuanya bertemu pada satu titik yang sama: pertanyaan tentang sejauh mana manusia modern masih memiliki otonomi atas tindakannya sendiri.
Keberagaman pembacaan ini pula yang barangkali menjadi bekal berharga bagi karya ini sebelum melangkah ke Festival Teater Dosen Indonesia 2026 di ISI Yogyakarta—sebuah bukti bahwa persoalan sesederhana sebuah sendok, ternyata mampu membuka begitu banyak pintu tafsir.

