Rumah Syukur Papua membawa harapan baru bagi keluarga mendiang David Pakaimu. Setelah bertahun-tahun menanti bantuan rumah yang tak kunjung terwujud, pembangunan hunian layak kini telah mencapai sekitar 60 persen.
Rumah Syukur Papua menjadi titik terang bagi keluarga mendiang David Pakaimu yang selama bertahun-tahun hidup di rumah dalam kondisi memprihatinkan. Program Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS) untuk pertama kalinya hadir di Papua dengan membangun rumah layak huni bagi keluarga tersebut.
Sebelum pembangunan dimulai, keluarga David menempati rumah papan yang telah lapuk dimakan usia. Tiang penyangga rumah mengalami keropos sehingga bangunan tampak miring. Selain itu, sebagian dinding telah terlepas dan atap bocor hampir di seluruh ruangan sehingga rumah tidak lagi memberikan rasa aman bagi penghuninya.
Namun, di tengah kondisi tersebut, harapan akhirnya datang melalui program pembangunan rumah gratis yang digagas warga Thoriqoh Shiddiqiyyah. Meski David telah meninggal dunia sebelum rumah impiannya berdiri, proses pembangunan tetap dilanjutkan untuk keluarganya.
Selama pembangunan berlangsung, istri, menantu, dan cucu-cucu mendiang David tinggal sementara di bangunan belakang yang sebelumnya digunakan sebagai dapur sederhana. Mereka menunggu hingga rumah baru selesai dibangun.
Bertahun-tahun Menunggu Bantuan Rumah
Menurut keterangan keluarga, semasa hidup David, berbagai pihak pernah datang untuk mendata kondisi rumah mereka. Beberapa kali rumah difoto dan dijanjikan akan memperoleh bantuan.
Meski begitu, bantuan yang dinantikan tidak pernah terealisasi. Tahun demi tahun berlalu hingga akhirnya David jatuh sakit dan meninggal dunia sebelum impian memiliki rumah layak terwujud.
Karena itu, dimulainya pembangunan Rumah Syukur menghadirkan rasa haru sekaligus kebahagiaan bagi seluruh keluarga. Mereka akhirnya melihat harapan yang selama ini dinanti mulai menjadi kenyataan.

Rumah Dibangun Tanpa Membedakan Latar Belakang
Saat proses silaturahmi, keluarga sempat mempertanyakan apakah bantuan rumah tersebut mengharuskan mereka berpindah keyakinan. Pertanyaan itu dijawab langsung oleh Ketua DHIBRA Daerah Papua, Muhammad Anwar.
Ia menegaskan Rumah Syukur dibangun bukan untuk mengubah keyakinan penerima manfaat. Program tersebut bertujuan membantu warga Indonesia yang membutuhkan tanpa membedakan agama, suku, maupun latar belakang.
Menurut Anwar, program ini menjadi sarana mempererat hubungan antarsesama, termasuk antara pendatang dan warga asli Papua serta masyarakat dari berbagai keyakinan.
Pembangunan Ditargetkan Rampung Akhir Agustus
Hingga akhir Juli 2026, pembangunan Rumah Syukur telah mencapai sekitar 60 persen. Pekerjaan memasuki tahap plester dinding, pemasangan plafon, serta persiapan pengecoran lantai.
Rumah berukuran 5 x 7 meter tersebut dibangun melalui dana shodaqoh warga Thoriqoh Shiddiqiyyah di Papua, penggalangan dana melalui penjualan kaos Sehat Tentrem, dukungan para simpatisan, serta berbagai bentuk kepedulian lainnya. Seluruh proses pembangunan dikerjakan secara gotong royong dan ditargetkan selesai sehingga keluarga mendiang David Pakaimu dapat menempati rumah baru setelah peresmian serentak pada akhir Agustus 2026.

