Akses keuangan remaja usia 15-17 tahun sudah mencapai 89,13 persen, tetapi tingkat literasinya baru 56,04 persen.
Akses keuangan remaja menunjukkan angka tinggi dalam SNLIK 2026. Namun, kondisi itu belum sejalan dengan tingkat pemahaman mereka.
Data OJK mencatat indeks inklusi keuangan kelompok usia 15-17 tahun mencapai 89,13 persen. Sementara itu, literasi keuangannya hanya 56,04 persen.
Artinya, sebagian besar remaja sudah memiliki akses terhadap produk dan layanan keuangan. Namun, belum seluruhnya memahami produk yang mereka gunakan.
Akses Keuangan Remaja Belum Sejalan Literasi
Perbedaan tersebut menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam memperkuat edukasi keuangan generasi muda.
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono, edukasi perlu masuk ke lingkungan pendidikan.
Karena itu, OJK akan bekerja sama dengan kementerian terkait untuk mengintegrasikan materi literasi keuangan dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi.
Materi edukasi nantinya menyesuaikan karakteristik serta kebutuhan masing-masing kelompok usia.
OJK Terapkan Pendekatan Sesuai Usia
Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menilai edukasi perlu hadir sebelum generasi muda aktif menggunakan produk keuangan.
“Intervensi harus dilakukan sebelum mereka menjadi pengguna aktif dari produk keuangan,” ujar Friderica.
Di sisi lain, OJK menggunakan pendekatan berdasarkan siklus kehidupan atau life-cycle approach dalam program literasi keuangan.
Menurut Friderica, pendekatan edukasi tidak bisa menggunakan pola yang sama untuk semua kelompok masyarakat.
“Pendekatan edukasi keuangan tidak bisa bersifat one-size-fits-all. Kita membutuhkan life-cycle approach terhadap literasi keuangan,” ujarnya.
Indeks Nasional Sudah Lampaui Target RPJMN
Secara nasional, indeks literasi keuangan masyarakat mencapai 69,57 persen pada 2026. Angka tersebut naik dari 66,64 persen pada 2025.
Selain itu, indeks inklusi keuangan meningkat menjadi 93,61 persen. Pada 2025, angkanya tercatat sebesar 92,74 persen.
Faktanya, capaian nasional itu sudah melewati target RPJMN 2025-2029 untuk tahun 2029.
Target literasi keuangan pada 2029 sebesar 59,39 persen. Sementara itu, target inklusi keuangan ditetapkan sebesar 93 persen.
Meski begitu, OJK tetap menilai akses keuangan perlu berjalan bersama pemahaman yang memadai.
Yang patut dicermati, kelompok usia 15-17 tahun memperlihatkan selisih cukup besar antara inklusi 89,13 persen dan literasi 56,04 persen.
Dengan demikian, penguatan edukasi menjadi bagian penting dalam menjembatani perbedaan antara akses dan pemahaman keuangan generasi muda.

