Harga Beras Thailand Naik 10 Persen, Petani Mulai Hentikan Tanam?

harga beras Thailand

Suara Dunia Nusantara – Harga beras Thailand melonjak 10 persen dalam sepekan terakhir, memicu tekanan serius di tingkat produksi hingga membuat sebagian petani menghentikan aktivitas tanam. Lonjakan ini dipicu kenaikan biaya energi dan gangguan pasokan global akibat konflik Iran.

Data pasar menunjukkan harga beras putih Thailand dengan tingkat kerusakan 5 persen naik menjadi US$ 423 per ton. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi sejak Agustus 2023.

Dalam konteks ini, harga beras Thailand tidak hanya mencerminkan kondisi pasar, tetapi juga tekanan biaya yang semakin membesar di tingkat petani.

Sejumlah petani telah berhenti menanam padi karena keuntungan tidak cukup menutup biaya,” ujar Analis Komoditas Senior Rabobank, Oscar Tjakra.

Suara Dunia Nusantara
Analis Komoditas Senior Rabobank, Oscar Tjakra.

Pernyataan tersebut menggambarkan situasi di lapangan yang mulai berubah.

Kenaikan Biaya Produksi Tekan Margin Petani

Lonjakan harga energi menjadi faktor utama peningkatan biaya produksi. Harga bahan bakar dan pupuk mengalami kenaikan seiring terganggunya pasokan global.

Akibatnya, biaya operasional pertanian meningkat tajam dalam waktu singkat. Petani menghadapi situasi di mana pengeluaran lebih besar dibanding potensi pendapatan.

Baca Juga :  Perang Iran Seret Pangkalan dan Kedutaan AS di Timur Tengah

Dalam praktiknya, kondisi ini membuat sebagian petani memilih menunda atau menghentikan penanaman. Keputusan tersebut diambil untuk menghindari kerugian lebih besar.

Yang jadi sorotan, fenomena ini terjadi di tengah masa panen di luar musim. Artinya, produksi yang seharusnya tetap berjalan justru mengalami gangguan.

Di sisi lain, kenaikan biaya juga memengaruhi akses terhadap input produksi. Tidak semua petani mampu menyesuaikan dengan harga baru.

Produksi Terganggu, Pasokan Global Makin Ketat

Penurunan aktivitas tanam berdampak langsung pada ketersediaan pasokan. Dalam jangka pendek, efeknya mulai terasa pada pasar internasional.

Thailand sebagai eksportir beras terbesar ketiga dunia memiliki peran penting dalam menjaga pasokan global. Ketika produksi terganggu, dampaknya meluas ke berbagai negara importir.

Selain faktor biaya, kondisi lingkungan juga memperparah situasi. Musim kemarau yang berkepanjangan mengurangi hasil panen secara signifikan.

Dalam sudut pandang ini, tekanan terhadap produksi tidak berasal dari satu faktor saja. Ada kombinasi antara biaya, cuaca, dan gangguan logistik.

Tak hanya itu, kenaikan biaya pengiriman dan asuransi kargo juga ikut meningkatkan harga akhir. Jalur distribusi yang terganggu di kawasan Timur Tengah memperbesar risiko pengiriman.

Baca Juga :  Dunia Internasional Soroti Bharat Bandh: Jutaan Diaspora Pantau Stabilitas India

Rantai Pasok Tertekan dari Hulu ke Hilir

Tekanan yang terjadi tidak berhenti di tingkat petani. Rantai pasok secara keseluruhan ikut terdampak.

Dari hulu, petani menghadapi biaya tinggi dan ketidakpastian produksi. Sementara di hilir, pedagang dan eksportir menghadapi harga yang semakin fluktuatif.

Di waktu yang sama, penguatan mata uang baht turut memengaruhi daya saing ekspor. Harga beras Thailand menjadi relatif lebih mahal di pasar global.

Yang kerap luput diperhatikan, kondisi ini dapat memicu penyesuaian strategi di tingkat perdagangan internasional.

Dalam perkembangan selanjutnya, pasar beras global menjadi lebih sensitif terhadap gangguan kecil sekalipun.

Situasi ini menunjukkan bahwa harga beras Thailand kini dipengaruhi oleh tekanan struktural yang saling terkait di berbagai lini produksi dan distribusi.

Related posts