Suara Dunia Nusantara – Pemerintah Kota Balikpapan menargetkan pengurangan sampah hingga 50 persen sebagai bagian dari strategi pengelolaan lingkungan dan upaya meraih penghargaan Adipura. Target ini muncul di tengah volume sampah harian yang mencapai sekitar 550 ton.
Angka tersebut menjadi perhatian utama dalam pembahasan internal pemerintah kota. Saat ini, capaian penanganan sampah masih berada di kisaran 30 persen, sehingga diperlukan langkah percepatan untuk mengejar target yang ditetapkan.
Target Pengurangan dan Tekanan Volume Sampah
Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, menyebut pengurangan sampah hingga 50 persen menjadi target internal yang harus dicapai.
“Kalau kita mau dapat Adipura, kita harus mengurangi sampah sampai 50 persen,” ujarnya.
Dalam konteks ini, volume sampah harian sebesar 550 ton menjadi indikator utama yang harus ditekan secara bertahap.
Gap antara Target dan Capaian
Saat ini, penanganan sampah baru mencapai sekitar 30 persen. Selisih tersebut menunjukkan adanya kebutuhan peningkatan kapasitas pengelolaan.
Yang perlu dicermati, peningkatan ini tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada efektivitas program yang berjalan.
Dengan kata lain, strategi pengurangan harus dilakukan secara menyeluruh.
Inovasi Pengolahan Sampah yang Disiapkan
Pemkot Balikpapan menyiapkan berbagai inovasi untuk mengurangi sampah dari sumbernya. Salah satu langkah yang didorong adalah pengolahan sampah organik menjadi kompos.
Selain itu, sampah juga dimanfaatkan sebagai bahan baku batako sebagai bentuk pemanfaatan ulang.
“Apakah itu kompos, apakah itu dalam bentuk batako. Inovasi ini yang harus dimiliki,” kata Bagus.
Pemanfaatan Sampah sebagai Sumber Daya
Dalam pendekatan ini, sampah tidak hanya dipandang sebagai limbah, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat diolah kembali.
Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir.
Efek langsungnya, tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah dapat berkurang.
Peran PSEL dalam Skema Pengolahan
Selain inovasi berbasis pengurangan, pemerintah juga menyiapkan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Manggar.
Fasilitas ini dirancang memiliki kapasitas hingga 750 ton per hari, melampaui volume sampah harian kota.
Dalam sudut pandang ini, PSEL menjadi komponen utama dalam sistem pengolahan sampah skala besar.
Pengolahan Sampah Baru dan Lama
Kapasitas PSEL tidak hanya digunakan untuk sampah harian, tetapi juga untuk mengolah timbunan sampah lama.
“Nanti sebagian kita ambil dari tumpukan sampah juga,” ujar Bagus.
Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dilakukan secara paralel antara penanganan baru dan lama.
Kesiapan Lahan dan Tahapan Proyek
Pemerintah Kota Balikpapan menyatakan kesiapan lahan untuk pembangunan PSEL di kawasan Manggar. Dari total sekitar 47 hektare, sekitar empat hektare dialokasikan untuk proyek tersebut.
“Kita yang paling siap,” ungkap Bagus.
Namun demikian, tahapan proyek masih menunggu proses lanjutan dari pemerintah pusat.
Proses Teknis yang Masih Berjalan
Tahapan berikutnya meliputi penyusunan Detail Engineering Design (DED), survei teknis, hingga penunjukan pihak ketiga.
Yang kerap luput diperhatikan, kesiapan administrasi menjadi bagian penting sebelum pembangunan fisik dimulai.
Dalam perkembangan ini, percepatan proyek bergantung pada koordinasi antara pemerintah daerah dan pusat.
