Ben Gvir tolak gencatan senjata Lebanon yang sebelumnya diumumkan Presiden AS Donald Trump. Menteri Keamanan Nasional Israel itu meminta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyampaikan penolakan tersebut secara langsung kepada Washington.
Ben Gvir tolak gencatan senjata Lebanon dan menegaskan Israel tidak seharusnya menerima kesepakatan penghentian konflik dengan negara tetangganya tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir saat berbicara kepada stasiun televisi publik KAN pada Senin, 22 Juni.
Menurut Ben Gvir, Israel harus tetap mengambil keputusan berdasarkan kepentingannya sendiri meski Amerika Serikat mendorong kesepakatan gencatan senjata.
Ia bahkan meminta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyampaikan sikap penolakan tersebut kepada Presiden AS Donald Trump.
Ben Gvir Minta Netanyahu Bicara Langsung ke Trump
Dalam keterangannya, Ben Gvir menyebut Trump merupakan sahabat dekat Israel.
Meski demikian, ia menilai hubungan baik tersebut tidak boleh mengubah posisi Israel terkait konflik di Lebanon.
Karena itu, Ben Gvir meminta pemerintah Israel menyampaikan secara terbuka bahwa mereka tidak dapat menerima gencatan senjata.
Yang jadi sorotan, Ben Gvir menegaskan keputusan akhir harus berada di tangan Israel, bukan negara lain.
Ia juga menyebut langkah militer yang berlangsung saat ini memberikan hasil bagi pasukan Israel.
Trump Sebut Israel Setuju Gencatan Senjata
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa Israel telah menyetujui kembali gencatan senjata dengan Lebanon.
Trump menyampaikan pernyataan tersebut dalam wawancara melalui sambungan telepon dengan NBC News pada 19 Juni.
Menurutnya, ia telah berbicara dengan pihak Israel dan meminta mereka menerima kesepakatan tersebut.
Namun, Trump tidak menjelaskan apakah pembicaraan itu berlangsung langsung dengan Netanyahu atau melalui jalur lain.
Dalam kesempatan itu, Trump menyebut kesepakatan tersebut sebagai perkembangan positif.
Hizbullah Klaim Akan Patuhi Kesepakatan
Sementara itu, sumber resmi dari Hizbullah mengatakan kelompok tersebut akan mematuhi gencatan senjata yang disepakati.
Di sisi lain, sumber yang sama menuduh Israel masih melanjutkan serangan dan berupaya memperluas pergerakan militernya ke wilayah Lebanon.
Situasi tersebut membuat implementasi gencatan senjata kembali menjadi perhatian berbagai pihak.
Dalam konteks tersebut, perbedaan sikap antara pihak yang mendukung dan menolak kesepakatan terus mencuat.
Perdebatan Meningkat di Dalam Israel
Penolakan Ben Gvir muncul ketika perdebatan politik di Israel semakin menguat.
Faktanya, sejumlah pejabat dan tokoh politik Israel juga menyoroti nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran.
Kesepakatan sementara itu menjadi bagian dari proses pembahasan perjanjian damai yang masih berlangsung selama 60 hari ke depan.
Berbagai kalangan di Israel menilai kesepakatan tersebut tidak mengakomodasi sejumlah kekhawatiran utama Tel Aviv.
Mereka menyoroti tidak masuknya program rudal Iran maupun hubungan Teheran dengan kelompok-kelompok proksi dalam dokumen tersebut.
Pemimpin partai Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman, bahkan menegaskan kebijakan Israel harus berlandaskan kepentingan nasional, bukan pertimbangan ekonomi global.
Dampak Konflik Israel-Lebanon
Konflik yang berlangsung sejak 2 Maret telah menimbulkan korban besar di Lebanon.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam laporan, lebih dari 4.100 orang tewas dan lebih dari 12.000 lainnya mengalami luka-luka.
Selain itu, Israel masih mempertahankan keberadaannya di sejumlah wilayah Lebanon selatan.
Sebagian wilayah tersebut telah dikuasai selama beberapa dekade, sementara area lainnya direbut dalam perang yang berlangsung sepanjang 2023 hingga 2024.

