Suara Dunia Nusantara – Sampah yang selama ini dianggap persoalan lingkungan di Kampung Masigit, Kabupaten Serang, kini berubah menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat setempat melalui inisiatif warga bernama Amaliyah.
Perubahan ini bermula dari usaha kue rumahan yang dijalankan sejak 2019. Seiring meningkatnya produksi, muncul persoalan penumpukan sampah yang kemudian direspons dengan langkah pengolahan berbasis komunitas.
Dalam perkembangannya, Amaliyah mengajak ibu-ibu di sekitarnya untuk memilah sampah dan mengolahnya menjadi produk bernilai guna. Dari kegiatan tersebut, lahir berbagai hasil olahan seperti aromaterapi hingga sofa berbahan ecobrick.
Pengolahan Sampah Berbasis Komunitas
Inisiatif ini berkembang menjadi Bank Sampah MATA (Masigit Asri Tanpa Sampah) yang kini melibatkan puluhan warga. Tercatat sebanyak 86 anggota aktif berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Dalam praktiknya, setiap anggota mendapatkan imbalan berdasarkan jumlah sampah yang disetorkan. Sistem ini mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah.
Yang jadi sorotan, pendekatan ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menciptakan kesadaran kolektif terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan.
Dampak Sampah terhadap Lingkungan Berkurang
Secara faktual, dampak dari program ini terlihat pada penurunan volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPU). Sebelumnya, jumlah sampah mencapai 900 kilogram per bulan.
Namun dalam perkembangan selanjutnya, volume tersebut berkurang menjadi sekitar 400 kilogram per bulan. Artinya, hampir setengah dari sampah kini dikelola langsung di tingkat masyarakat.
Dalam konteks ini, pengelolaan sampah berbasis komunitas menjadi solusi yang mampu mengurangi tekanan terhadap sistem pembuangan akhir.
Nilai Sosial dari Pengelolaan Sampah
Tak hanya berdampak pada lingkungan, kegiatan ini juga memiliki dimensi sosial. Sebagian keuntungan dari hasil pengolahan sampah disalurkan untuk membantu kaum duafa dan anak yatim.
“Saya tidak pernah menyangka, yang awalnya hanya ibu-ibu dasteran yang ngumpulin sampah, kini bisa sampai jadi juara Mekaarpreneur,” ujar Amaliyah.
Ia menambahkan kegiatan sederhana tersebut justru membuka peluang berbagi dengan masyarakat yang membutuhkan.
Di sisi lain, Sekretaris Perusahaan PNM L. Dodot Patria Ary menilai langkah ini sebagai contoh pemberdayaan yang berdampak luas.
“Dari hal sederhana, dapur rumahan, bisa lahir dampak yang luas, bukan hanya menguatkan ekonomi keluarga, tapi juga menghadirkan kepedulian sosial dan menjaga lingkungan,” ujarnya.
Pada praktiknya, inisiatif ini menunjukkan bahwa sampah dapat menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tingkat lokal.
