SuaraDuniaNusantara.net — Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM, Hatma Suryatmojo, menegaskan bahwa banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 berakar dari melemahnya kawasan hulu akibat deforestasi berkepanjangan. Dalam keterangan resminya, Rabu (3/12/2025), ia menyatakan bahwa cuaca ekstrem hanyalah lapisan terakhir dari rentetan proses ekologis yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Hatma menyebut hilangnya tutupan hutan telah menghapus fungsi intersepsi, mengurangi infiltrasi, dan melemahkan kapasitas tanah menahan air. Dengan kondisi seperti itu, curah hujan di atas 300 milimeter per hari yang dipengaruhi Siklon Tropis Senyar langsung berubah menjadi limpasan destruktif. Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menunjukkan pola kerusakan serupa: hutan yang dulu menjadi penyangga hidrologis kini terfragmentasi dan menurun drastis.
Ia menyoroti kawasan Batang Toru sebagai contoh paling jelas dari degradasi hulu. Kawasan yang seharusnya melindungi Sumatera Utara dari limpasan ekstrem itu kini tak lagi memiliki daya redam akibat ekspansi konsesi dan aktivitas ekstraktif. “Ketika sabuk hijau hancur, wilayah hilir kehilangan perlindungannya,” ujar Hatma.
Ia mendorong pemulihan lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, pusat, dan masyarakat. Diplomasi lingkungan, penegakan hukum, reforestasi, dan pengaturan ulang penggunaan lahan menjadi langkah yang menurutnya mendesak. “Ekosistem yang pulih adalah investasi keamanan jangka panjang bagi jutaan warga,” katanya.***
