Banjir Sumatera dan Cuaca Ekstrem dalam Perspektif Kolaborasi Global

Banjir Sumatera dan Cuaca Ekstrem

suaradunianusantara.net – Banjir Sumatera akhir November 2025 dibaca melalui kolaborasi data nasional dan internasional untuk mengurai dampak Cuaca Ekstrem secara objektif. Kajian forensik CENAGO ITB memadukan data BMKG dan NOAA Amerika Serikat dalam satu kerangka analisis geospasial lintas lembaga.

Pendekatan ini menempatkan presipitasi ekstrem sebagai variabel kunci. Hujan tercatat 150 hingga lebih dari 300 milimeter per hari akibat Siklon Tropis Senyar.

Sinergi BMKG dan NOAA dalam Analisis Presipitasi

CENAGO tidak hanya mengandalkan citra satelit resolusi tinggi. Tim mengintegrasikan data presipitasi BMKG dengan data NOAA untuk memetakan anomali hujan secara komprehensif.

Dalam forum Focus Group Discussion di Jakarta, 18 Februari 2026, perwakilan BMKG memaparkan bahwa fenomena Siklon Tropis Senyar tergolong sangat jarang. Anomali presipitasi terjadi serentak di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.

Koordinator Tim Riset CENAGO, Heri Andreas, menyebut model probabilitas menunjukkan kategori R700 hingga R1000.

Model probabilitas kami menunjukkan ini masuk kategori R700 hingga R1000, yang artinya siklus kejadian sekali dalam 700 hingga 1.000 tahun. Angka ini melampaui standar mitigasi banjir yang umumnya dirancang hingga R50,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).

Baca Juga :  Tragedi Bantargebang Jadi Sorotan, Diplomasi Ekologi Jakarta-Bekasi Diuji

Kolaborasi data tersebut memperkuat pembacaan bahwa Cuaca Ekstrem berada di luar desain sistem pengendalian banjir nasional.

Pendekatan Geospasial Lintas DAS

Analisis dilakukan pada tiga daerah aliran sungai: Badiri, Garoga, dan Batang Toru. CENAGO memanfaatkan digital elevation model, pendefinisian DAS dan sub-DAS, serta parameter hidrologi-hidrolika standar.

Dengan dukungan lebih dari 150 satelit, termasuk citra resolusi tinggi hingga 30 sentimeter dan teknologi radar, pemetaan dilakukan secara detail. Integrasi data ini mempercepat penyelenggaraan informasi geospasial secara signifikan.

Simulasi hidrologi-hidrolika menunjukkan lonjakan debit tetap terjadi meski diuji dalam berbagai skenario. Artinya, dalam konteks Banjir Sumatera, faktor presipitasi ekstrem memegang peran dominan.

Pendekatan lintas lembaga ini menempatkan data sebagai bahasa bersama. Dalam kerangka tersebut, analisis Cuaca Ekstrem tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi hasil kerja kolektif berbasis sains dan kolaborasi global.

Related posts