suaradunianusantara.net — Jombang, Thoriqoh Shiddiqiyyah yang berpusat di Ploso, Jombang, Jawa Timur, menampilkan wajah Islam Nusantara yang unik melalui sinergi antara tasawuf dan nasionalisme. Di mata dunia internasional, gerakan ini menjadi contoh bagaimana kelompok spiritual lokal mampu berkontribusi pada stabilitas nasional dan kesejahteraan global melalui program Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah (RSLHS), sebuah inisiatif filantropi mandiri yang menyasar masyarakat paling rentan.
Prinsip “Hubbul Wathon Minal Iman” atau cinta tanah air adalah bagian dari iman, dijadikan sebagai fondasi untuk membangun dialog antara nilai-nilai ketuhanan dan tanggung jawab kewarganegaraan. Program ini tidak hanya membangun fisik bangunan, tetapi juga membangun citra positif Indonesia sebagai bangsa yang memiliki modal sosial gotong royong yang sangat kuat di mata komunitas internasional dan diaspora Indonesia di berbagai belahan dunia.
Membangun Peradaban Melalui Karakter Mandiri
Kekuatan utama Shiddiqiyyah terletak pada kemandirian yang absolut dalam menjalankan program sosialnya. Tanpa bergantung pada donor luar negeri maupun subsidi pemerintah, mereka menunjukkan kedaulatan dalam bertindak. Hal ini menjadi pesan diplomasi yang kuat bahwa masyarakat sipil Indonesia mampu mengelola tantangan sosialnya secara internal dengan menggunakan kearifan lokal yang dipadukan dengan manajemen organisasi yang modern.
Apresiasi Intelektual Terhadap Neo-Sufisme Lokal
Gerakan ini menarik perhatian para pakar sejarah dan sosiologi agama. Abd. A’la, Guru Besar Sejarah Penyiaran Islam, menyatakan bahwa Shiddiqiyyah adalah representasi Neo-Sufisme yang berhasil mendobrak isolasi spiritual. “Ini tasawuf yang tidak lari dari dunia, tetapi membangunnya,” jelas Abd. A’la pada sesi diskusi di Surabaya tahun 2025. Ia menilai model ini sangat efektif dalam memperkuat jati diri bangsa di tengah arus globalisasi.
Bagi Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi, pimpinan Thoriqoh Shiddiqiyyah, aksi sosial adalah bahasa syukur yang universal. “Ibadah sosial adalah wujud syukur atas kemerdekaan,” ungkapnya dalam ceramah yang sering didengar oleh jamaah lintas daerah. Spiritualitas ini juga tercermin dari sikap hormat mereka terhadap lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dianggap sebagai doa luhur bagi kejayaan bangsa dan perdamaian dunia.
Inisiatif dari Ploso ini membuktikan bahwa nilai-nilai spiritual dapat menjadi jembatan bagi pembangunan manusia yang seutuhnya. Dengan membangun rumah bagi fakir miskin, Shiddiqiyyah sedang mempraktikkan diplomasi kemanusiaan yang paling murni. Inilah kontribusi nyata Nusantara bagi dunia: sebuah model di mana kesalehan beragama memperkuat kecintaan pada tanah air, menciptakan bangsa yang mandiri, bermartabat, dan penuh kedamaian.***
