Isu BPA dan Galon Isi Ulang, Alarm Kesehatan Publik Indonesia

galon air isi ulang

suaradunianusantara.net – Isu Bisfenol A atau BPA kembali mencuat di tengah tingginya konsumsi galon air isi ulang di Indonesia. Temuan galon berusia puluhan tahun yang masih beredar memicu kekhawatiran kesehatan publik. Dalam konteks global, peringatan soal BPA bukan hal baru. Namun, pada praktiknya, paparan harian lewat air minum masih menjadi titik rawan yang kerap luput dari perhatian. Gambaran besarnya tegas. Konsumsi masif bertemu pengawasan yang belum seimbang.

Sekitar 30–40 persen rumah tangga Indonesia menggunakan air galon isi ulang untuk kebutuhan harian. Angka ini menempatkan isu BPA sebagai persoalan kesehatan masyarakat, bukan sekadar pilihan individu.

BPA sebagai Alarm Kesehatan Jangka Panjang

Epidemiolog dan pakar kesehatan masyarakat Dicky Budiman menjelaskan bahwa BPA merupakan endocrine disruptor atau pengganggu sistem hormon. “BPA adalah bahan kimia sintetis yang banyak digunakan pada plastik polikarbonat dan resin epoksi,” ujarnya. Zat ini dapat larut ke dalam air, terutama jika wadah digunakan berulang atau dalam kondisi rusak.

Secara global, perhatian terhadap BPA terus meningkat. Uni Eropa pada 2023 menurunkan ambang batas asupan harian BPA menjadi 0,2 nanogram per kilogram berat badan per hari. Batas ini jauh lebih ketat dibandingkan standar sebelumnya. Sementara itu, Badan POM di Indonesia menetapkan ambang migrasi BPA maksimal 0,6 ppm pada air kemasan.

Baca Juga :  Peran Marketplace Disorot BPOM Usai 26 Kosmetik Berbahaya Masih Bebas Dijual Online

Namun pada kenyataannya, Dicky menilai prinsip kehati-hatian tetap relevan. Paparan jangka panjang dikaitkan dengan gangguan kesuburan, metabolisme, hingga peningkatan risiko kanker payudara dan prostat.

Dari Dapur Rumah ke Isu Global

Di lapangan, galon air isi ulang berusia tua masih digunakan luas. Warna galon yang buram dan menguning menjadi penanda degradasi material. Ahli polimer Universitas Indonesia, Profesor Mohamad Chalid, menegaskan bahwa batas aman galon guna ulang hanya sekitar 40 kali pengisian. “Itu artinya tidak sampai setahun. Ini batas amannya,” jelasnya.

Artinya, risiko BPA tidak selalu datang dari produk baru. Justru penggunaan berulang tanpa pengawasan ketat menjadi sumber paparan yang sunyi. Dalam sudut pandang ini, isu galon isi ulang di Indonesia sejajar dengan diskursus global soal keamanan pangan dan air minum.

Tantangan Regulasi dan Literasi Publik

Di sisi lain, lembaga internasional seperti FDA dan EFSA masih mengakui keamanan galon polikarbonat jika memenuhi standar. Namun, perbedaan standar global menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang. Literasi publik pun menjadi kunci.

Baca Juga :  TBC Bandung dan Peran Daerah dalam Target Nasional

Dicky menekankan pentingnya mitigasi risiko. Konsumen disarankan memeriksa kondisi fisik galon, menghindari paparan panas, dan membatasi penggunaan galon yang sudah aus. Di waktu bersamaan, industri dan pemerintah perlu memperkuat uji migrasi serta pengawasan rutin.

Efek langsungnya bukan hanya pada individu, tetapi pada kualitas kesehatan publik secara luas. Isu BPA pada galon air isi ulang menjadi alarm. Bukan untuk panik, melainkan untuk waspada berbasis data.

Related posts