SuaraDuniaNusantara.net — Ketua Umum PBNU Gus Yahya, dalam forum PWNU se-Indonesia di Surabaya (23/11/2025), menegaskan bahwa dirinya tidak akan mundur. “Tidak terbesit pikiran untuk mundur,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa mandat lima tahun Muktamar 2021 masih mengikat.
Pernyataan itu muncul setelah Rapat Harian Syuriyah meminta dirinya mundur pada 20 November 2025. Ia menegaskan rapat tersebut tidak memiliki kewenangan konstitusional. “Tidak sah,” tegasnya.
Isu internal ini juga dirasakan jaringan PBNU di luar negeri, karena stabilitas pusat memengaruhi citra dan koordinasi internasional. Ketidakhadiran Sekjen PBNU Gus Ipul pada forum sebelumnya ikut menjadi sorotan.
KH Abdul Muhaimin mengkritik peredaran risalah Syuriyah, menyebutnya manuver yang dapat memecah soliditas.
PWNU di berbagai wilayah menyampaikan respons beragam: ada yang memilih patuh pada Rais Aam, ada yang menyerukan musyawarah, ada yang menyatakan keprihatinan. Dinamika ini tampak sebagai mozaik sikap Nahdliyin di era global, di mana dinamika daerah terhubung dengan pusat dan diaspora. (*)
