Uji Coba CNG 3 Kg Masuk Tahap Ketiga, Bahlil Jelaskan Alasan Jadi Alternatif LPG

Uji Coba CNG 3 Kg

Uji coba CNG 3 kg terus berlanjut sebagai bagian dari pengembangan alternatif LPG untuk rumah tangga. Pemerintah menegaskan teknologi tersebut bukan hal baru karena telah lama dimanfaatkan di sektor komersial sebelum dikembangkan untuk masyarakat.

Pemerintah melanjutkan pengembangan Compressed Natural Gas (CNG) kemasan 3 kilogram sebagai alternatif Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi. Saat ini, program tersebut telah memasuki tahap ketiga uji coba sebelum diterapkan lebih luas kepada masyarakat.

Fokus pemerintah bukan sekadar menghadirkan produk baru, melainkan memastikan penggunaan tabung CNG 3 kilogram aman dan sesuai untuk kebutuhan rumah tangga. Karena itu, proses pengujian masih terus berlangsung.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan CNG bukan teknologi yang baru diperkenalkan. Menurutnya, pemanfaatan gas tersebut telah berlangsung cukup lama di berbagai sektor usaha.

CNG Sudah Dipakai di Sektor Komersial

Bahlil menjelaskan tabung CNG berkapasitas 12 kilogram dan 50 kilogram lebih dahulu digunakan di berbagai kegiatan komersial. Dalam praktiknya, pemanfaatan tersebut sudah berjalan sebelum pemerintah mengembangkan tabung berukuran 3 kilogram.

Beberapa sektor yang telah menggunakan CNG antara lain dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hotel, serta restoran. Pengalaman tersebut menjadi dasar pemerintah memperluas pemanfaatannya ke sektor rumah tangga.

Ini bukan barang baru, muncul tiba-tiba dari Fak-Fak datang, tidak. Ini sudah ada,” ujar Bahlil.

Tabung 3 Kg Masih Melalui Pengujian

Meski begitu, pemerintah masih menguji penggunaan tabung CNG berkapasitas 3 kilogram. Menurut Bahlil, tabung tersebut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan tabung yang selama ini digunakan di sektor komersial.

Ia menjelaskan tabung CNG 3 kilogram bekerja dengan tekanan sekitar 200 hingga 250 bar. Oleh sebab itu, pemerintah memilih menjalankan pengujian secara bertahap sebelum program diterapkan secara luas.

Untuk rakyat kita yang dikenakan subsidi harus pakai tabung 3 kilo. Tekanannya itu 200 sampai 250 bar. Nah ini yang sekarang lagi uji coba,” katanya.

Dalam konteks tersebut, tahap uji coba menjadi bagian penting untuk memastikan sistem distribusi dan penggunaan dapat berjalan sesuai rencana.

Bahlil Lahadalia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia

Distribusi Akan Mengikuti Pola LPG

Sementara itu, Kementerian ESDM juga menyiapkan mekanisme distribusi CNG 3 kilogram. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman mengatakan pola penyalurannya akan mengikuti sistem distribusi LPG.

Artinya, masyarakat nantinya memperoleh CNG melalui agen dan pangkalan resmi yang bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero). Skema tersebut dipilih karena dinilai telah dikenal luas dan memiliki jaringan distribusi yang siap dimanfaatkan.

Menurut Laode, kerja sama dengan Pertamina menjadi bagian penting agar distribusi CNG berjalan menggunakan mekanisme yang serupa dengan LPG.

Masyarakat Tidak Perlu Membeli Tabung

Yang patut dicatat, pemerintah juga menyiapkan sistem kepemilikan tabung yang berbeda dari barang konsumsi biasa. Tabung CNG tetap menjadi aset badan usaha sehingga masyarakat tidak perlu membeli tabung baru.

Sebaliknya, pengguna hanya menukar tabung kosong dengan tabung yang telah terisi gas ketika membutuhkan pasokan baru. Dengan kata lain, mekanisme tersebut dirancang menyerupai sistem pertukaran tabung LPG yang sudah berjalan selama ini.

Melalui pola itu, pemerintah berharap proses distribusi, pengelolaan tabung, dan pelayanan kepada masyarakat dapat berlangsung lebih teratur ketika program CNG 3 kilogram mulai diterapkan.

Related posts