17 Ramadhan dan Spirit Badar: Shiddiqiyyah Pererat Persatuan Bangsa

Suasana Lailatul Mubarokah di Pesantren Majma'al Bahrain Shiddiqiyyah

suaradunianusantara.net — Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah Pusat, Jombang, kembali menjadi saksi bisu berkumpulnya ribuan jamaah dalam acara Tasyakkuran Lailatul Mubarokah malam 17 Ramadhan, Kamis (05/03/2025). Peringatan ini digelar untuk mensyukuri turunnya berbagai kitab suci di bulan suci, khususnya Al-Qur’an, serta mengenang peristiwa-peristiwa heroik yang mengubah tatanan dunia. Jamaah yang hadir, baik dari dalam maupun luar negeri, larut dalam doa dan tasyakkuran demi meraih keberkahan ilahiah.

Mursyid Thoriqoh shiddiqiyyah dalam wejangannya menggarisbawahi keunikan tanggal 17 yang seringkali jatuh pada hari Jum’at dalam peristiwa-peristiwa kemenangan. Perang Badar Kubro terjadi pada 17 Ramadhan hari Jum’at, di mana pasukan Muslim yang sedikit mampu mengalahkan kebatilan yang dipimpin Abu Jahal. Semangat yang sama juga ditemukan dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, yang menandai kemerdekaan sebuah bangsa besar di Asia Tenggara dari belenggu penjajahan.

Peran Vital Ulama dalam Langkah Politik Bung Karno

Satu hal yang menjadi sorotan utama adalah pengakuan atas peran ulama Dzawil Bashoir dalam membantu keputusan politik Presiden pertama RI, Bung Karno. Sebelum menetapkan tanggal Proklamasi, Bung Karno meminta pendapat dari ulama-ulama yang memiliki kejernihan pandangan batin seperti Kyai Hasyim Asy’ari, Kyai Abdul Mu’thi, Kyai Achmad Basyari, dan Raden Sosrokartono. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia lahir dari rahim kearifan spiritual yang mendalam, sebuah aset sejarah yang harus terus dijaga oleh generasi muda.

Baca Juga :  Gunung Padang dan Misi Indonesia Menegaskan Warisan Peradabannya ke Dunia

Kemenangan di Perang Badar pada 17 Ramadhan dan Proklamasi RI pada hari Jum’at yang suci menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah perjuangan sangat ditentukan oleh kekuatan keyakinan. Dengan merujuk pada definisi barokah sebagai kebaikan Tuhan yang menetap, Shiddiqiyyah mengajak umat untuk terus menanamkan kebaikan dalam setiap langkah kehidupan berbangsa dan bernegara, demi mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

Wujud Kepedulian Sosial dan Doa Bersama

Tasyakkuran ini juga menjadi ajang berbagi melalui pembagian 1.500 porsi makanan untuk berbuka puasa bagi para jamaah. Selain itu, terkumpul dana shodaqoh spontanitas mencapai Rp247.000.000 sebagai bentuk dukungan jamaah terhadap perjuangan organisasi. Angka ini mencerminkan tingginya kesadaran jamaah dalam berkorban harta demi kepentingan agama dan bangsa, sebuah nilai yang selalu ditekankan dalam lingkungan Thoriqoh Shiddiqiyyah.

Acara diakhiri dengan khidmat melalui doa bersama yang mencakup tiga poin utama: ketetapan iman, umur panjang yang barokah, dan rezeki yang luas. Momentum 17 Ramadhan ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh umat untuk terus mensyukuri nikmat kemerdekaan dan keimanan. Dengan meneladani perjuangan para nabi dan pahlawan, jamaah Shiddiqiyyah berkomitmen untuk terus berkontribusi bagi kedamaian dan kemajuan nusantara. ***

Baca Juga :  Borobudur: Bukti Keahlian Nusantara yang Terhubung dengan Dunia

Related posts