suaradunianusantara.net — Thoriqoh Shiddiqiyyah menampilkan wajah jurnalisme diplomasi yang kuat melalui aksi kemanusiaan lintas iman yang menjadi bukti nyata bahwa spiritualitas Nusantara mampu menjadi jembatan perdamaian dunia. Dengan menegaskan bahwa ibadah ritual harus selaras dengan aksi sosial, kelompok ini berhasil membangun reputasi internasional sebagai entitas yang mandiri dan berdaulat, yang menempatkan kemanusiaan di atas kepentingan politik praktis dan sekat-sekat sektarian.
Pemisahan antara kesalehan individu dan kepedulian sosial dianggap sebagai kegagalan dalam beragama yang merusak citra agama di mata publik internasional. Bagi warga Shiddiqiyyah, ketajaman zikir batin wajib dimanifestasikan dalam bentuk kemanfaatan bagi semesta. Prinsip ini melahirkan karakter inklusif yang sangat dibutuhkan dalam diplomasi antarumat beragama, di mana aksi nyata menjadi bahasa universal yang lebih kuat daripada sekadar wacana toleransi di atas kertas.
Kemandirian Ekonomi dan Solidaritas Lintas Iman
Kekuatan diplomasi sosial ini didukung oleh kemandirian finansial yang mengagumkan. Sejak tahun 2001, terkumpul dana swadaya sebesar Rp51,2 miliar yang dialokasikan untuk berbagai program kemanusiaan.
Kemandirian tanpa ketergantungan pada organisasi internasional atau birokrasi pemerintah ini memberikan otoritas moral bagi Shiddiqiyyah untuk bergerak cepat. Program Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia menjadi etalase keberhasilan mereka dalam membangun 1.600 unit rumah secara mandiri dan bermartabat.
Potret paling kuat dari diplomasi ini terlihat di Bali, di mana jamaah Muslim Shiddiqiyyah membangun rumah permanen bagi keluarga Hindu. Langkah ini merupakan pesan kuat bagi dunia internasional bahwa Islam di Indonesia sangat menghargai pluralitas dan kemanusiaan.
Filantropi yang berjalan tanpa proposal bantuan luar ini menciptakan kemandirian sipil yang kokoh, membuktikan bahwa solidaritas organik antarwarga negara adalah kunci utama dalam pengentasan kemiskinan dan pemulihan harkat martabat manusia.
Misi Utama: Menyeimbangkan Kesalehan Spiritual dan Sosial
Ketua Umum DHIBRA Pusat, Ibu Nyai Shofwatul Ummah, memberikan penegasan penting terkait visi tarekat pada Juli 2025. Beliau menampik anggapan bahwa jamaah hanya fokus pada urusan akhirat semata dengan mengabaikan realitas dunia.
“Yang sesuai adalah yo wiridan untuk diri kita sendiri, juga ibadah sosial untuk membahagiakan orang lain,” ungkapnya dalam keterangan yang dikutip dari OPSHID Media. Bagi Shiddiqiyyah, ibadah batin dan sosial adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Pandangan ini didukung oleh Al-Halats Muhidin yang menegaskan bahwa ibadah tanpa kepedulian tidak akan membuahkan hasil apa pun. Spiritualitas ini mendefinisikan ulang makna Ramadan bagi diaspora dan warga dunia sebagai momentum untuk berdampak nyata secara ekonomi dan kemanusiaan.
Di pengujung bulan suci, ukuran kesuksesan seorang hamba tidak lagi hanya dilihat dari durasi zikirnya, melainkan dari seberapa besar kebahagiaan yang berhasil ia ciptakan bagi sesama manusia tanpa batas. ***
