SuaraDuniaNusantara.net – Klarifikasi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staqufdan penegasan Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar menjadi perhatian luas warga NU, termasuk diaspora di berbagai negara. Dua penjelasan resmi tersebut memperlihatkan perbedaan pijakan dalam menyikapi konflik kepemimpinan PBNU.
Dalam surat klarifikasi yang diterbitkan di Jakarta pada 21 Desember 2025, Yahya menyatakan bahwa langkahnya menyampaikan penjelasan ke publik bertujuan menjaga integritas dan keutuhan Nahdlatul Ulama. Ia menegaskan mandat kepemimpinannya berasal dari Muktamar ke-34 NU di Lampung tahun 2021. Yahya juga merujuk pada Surat Keputusan Kemenkumham Nomor AHU-0001097.AH.01.08 Tahun 2024 yang masih mencantumkan namanya sebagai Ketua Umum PBNU.
AKN-NU dan Respons Organisasi
Yahya menjelaskan Akademi Kepemimpinan Nasional NU (AKN-NU) merupakan program kaderisasi tertinggi yang diputuskan melalui rapat pleno PBNU sejak Juli 2024 dan telah dikonsultasikan dengan Rais Aam PBNU. Polemik muncul setelah kehadiran narasumber asing menimbulkan keberatan di kalangan warga NU. Yahya mengakui adanya kelalaian dalam proses seleksi dan menyatakan kegiatan dihentikan lebih awal atas arahan Rais Aam.
Dana dan Isu Tambang
Dalam klarifikasinya, Yahya membantah tuduhan penyelewengan dana Rp100 miliar PBNU. Ia menyebut Rp20 miliar sebagai sumbangan operasional dan menegaskan dana lainnya telah dikembalikan. Ia juga menepis isu pengalihan konsesi tambang kepada investor lain atas nama Presiden Prabowo Subianto, dengan menyatakan tidak ada pengalihan kepemilikan.
Penjelasan Rais Aam PBNU
Di sisi lain, Miftachul Akhyar selaku Rais Aam PBNU, pimpinan tertinggi Syuriyah NU, menegaskan bahwa pemberhentian Yahya dilakukan sesuai mekanisme konstitusional organisasi. Ia menyebut proses tersebut melibatkan tabayun pada 13 dan 17 November 2025, serta keputusan Rapat Pleno PBNU pada 9 Desember 2025 yang menunjuk Zulfa Mustofa sebagai pejabat ketua umum hingga Muktamar ke-35 NU 2026.
Di tengah perbedaan pandangan, kedua pihak sama-sama menyerukan islah sebagai jalan menjaga persatuan warga NU di dalam dan luar negeri. *
