SuaraDuniaNusantara.net – Tingginya korban jiwa akibat banjir bandang di Sumatera pada akhir 2025 dinilai mencerminkan kegagalan Indonesia memetik pelajaran dari Siklon Tropis Seroja 2021, menurut peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Penilaian tersebut disampaikan Yanu Endar Prasetyo, peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, dalam sebuah forum kebencanaan. Ia menegaskan bahwa siklon tropis telah lama menjadi bagian dari dinamika iklim kawasan.
“Siklon tropis ini bukan hal baru. Dari catatan media pada 2021 juga sudah terjadi, tapi kita tidak belajar,” ujarnya.
Menurut Yanu, kebencanaan tidak semata persoalan alam, tetapi juga tata kelola dan kepemimpinan. Tanpa mitigasi berbasis sains, risiko kemanusiaan akan terus berulang.
Ia membandingkan pengalaman pandemi Covid-19 yang menunjukkan pentingnya peran ilmuwan dalam kebijakan publik.
“Itu harus diakui, karena buktinya kita gagal memitigasi atau mengantisipasi korban jiwa sebanyak itu,” katanya.
Dimensi Politik dan Kepemimpinan
BNPB mencatat, hingga Minggu (14/12/2025), korban meninggal akibat banjir dan longsor di Sumatera mencapai 1.016 jiwa.
Yanu menilai kepemimpinan daerah berperan besar dalam penanganan bencana, mulai dari komunikasi hingga mobilisasi bantuan. Ketimpangan kapasitas dan anggaran memperbesar dampak bencana.
“Idealnya ekonomi dan ekologi seimbang,” ujarnya.
Sementara itu, peneliti iklim BRIN, Erma Yulihastin, menegaskan peringatan dini cuaca ekstrem harus menjadi dasar keputusan cepat pemerintah. “Peringatan dini menjadi kunci utama,” kata Erma.***
